Kisah tentang Rasulullah saw. tidak akan pernah habis ditelan waktu, tidak akan pernah habis inspirasi yang mengalir dalam setiap episode hidup Rasulullah saw., terutama tentang kisah menangisnya sebatang Tamar/kurma yang rindu Nabi saw., menangis karena ditinggalkan sebagai tempat bersandar saat khutbah jumat, menangis rindunya hingga merintih karena merasa Nabi saw meninggalkannya.
Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri di atas sebatang pohon kurma ketika berkhutbah. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar sesuatu pada batang pohon kurma tersebut seperti suara teriakan unta yang bunting. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam turun, lalu meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut. Setelah itu, batang pohon itu pun diam.”
Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar. Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak, hampir-hampir batang kurma itu terbelah.”
Dalam riwayat lain disebutkan, “Lalu batang kurma itu berteriak seperti teriakan anak kecil. Maka Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam turun lalu memegangnya dan memeluknya. Setelah itu, mulailah batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
بَكَتْ عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ
“Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” (HR. Bukhari no. 2095. Disebutkan dalam Riyadh Ash-Shalihin karya Imam Nawawi pada hadits no. 1831)
Bisa kita simak dan rasakan, betapa sebatang pohon yang tidak punya keinginan dan nafsu seperti kita menangis karena mengetahui kemulyaan Rasulullah saw. Kisah ini bermula ketika Nabi saw., biasa khutbah dan bersandar pada pohon kurma tersebut. Suatu ketika, seorang wanita tua anshar mendatangi Nabi saw dan menawarkan membuat mimbar baru karena anaknya seorang pengrajin kayu. Maka, Nabi saw pun mempersilakannya.
Dan, saat mimbar baru Rasulullah saw jadi, dipakailah pada hari jumat bersejarah itu, dimana sebatang pohon kurma menangis karena merindukan sosok mulia lagi bijaksana, Rasulullah saw.
Lalu, bagaimana dengan kita sebagai manusia yang mengaku sebagai ummat Rasulullah saw? Yang katanya selalu mengikuti jalan Nabi saw? yang katanya selalu mengaku mencintai Nabinya?
Bahkan kita kalah dengan sebatang tamar, karena dia mengetahui kemulyaan Nabi kita Muhammad saw., dan dia akan bersama yang dicintainya di surga Allah kelak,
Subhanallah walhamdulillah walaailaa haillallah, Allahumma sholli ‘ala Muhammad.
Benarlah, bahwa segala sesuatu itu bertasbih kepada Tuhannya.
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44)
Untuk lebih mendalami kisah ini, download juga lagu menangisnya sebatang pohon Tamar/Kurma, lagu Nashid yang dibawakan oleh Daqmie.
link mati, lapor
Not Comments Yet "Sebatang Tamar (Kurma) yang Menangis Rindu Rasulullah saw."
Post a Comment