7. Garis Takdir
Karena takdir digariskan
Adanya ujian
Kuatkanlah hamba...
Garis takdirku sebagai hambaMu
Selalu bersujud mengharap cintaMu
Hidup matiku digenggamanMu
Kupasrahkan hanya padaMu
Badai merintang menghalangi
Asalan Kau tetap di hati
Tiada ragu tuk jalani
Takdir ini....
(Haris Isa, Garis Takdir)
Beginilah adanya hidup, di dalam genggaman Allah segala sesuatu dapat diatur sekehendakNya. Pagi hari mungkin kita tersenyum, siapa yang tahu kalau satu jam lagi kita akan menangis sedih. Mungkin, siang hari kita menangis terisak, tapi sore harinya tertawa sumringah. Siapa yang tahu satu detik selanjutnya? Tak ada yang menjamin kecuali Allah.
Begitupun kisah Najib Khaelani, hari-hari indahnya dijalani penuh cinta, penuh kesyukuran. Namun, dia juga tak tahu apa yang akan terjadi esok hari, dia hanya paham untuk selalu mengembalikan segalanya kepada Allah.
Najib tak menduga sama sekali, bahwa garis takdirnya tidak semudah bunga mekar dan menebarkan bau semerbak, tidak pula setenang kepompong yang mengendap dalam gulungan daun dan menjemla kupu-kupu indah.
Hari itu, Najib menunggi isterinya yang hendak melahirkan. Pagi tadi, Ratna merasakan perutnya sakit sehingga Najib segera melarikannya ke bidan di kecamatan. Perawatan melahirkan sudah disiapkan, sepertinya si jabang bayi memang akan segera mencium bau dunia dengan bebas.
Hati Najib berdebar-debar di samping isterinya yang tengah merasakan sakit. Antara bahagia dan khawatir menyelimuti hatinya. Fatimah, ibunya ikut menunggui proses persalinan itu.
“Tenanglah Dik, terus berdzikir dan mohon pertolongan Allah,” Najib memberi nasehat isterinya sambil menggenggam tangan isterinya, meskipun hatinya berdebar-debar namun dia memberikan motivasi kepada isterinya.
“Iya Bang, makasih,” Ratna merasa lebih tenang dan tersenyum kepada suaminya.
Bidan terus memandu Ratna, suasana yang dihidupkan kipas di dalamnya tak bisa mengobati kekhawatiran yang menyelimuti orang-orang di dalamnya. Keringat semua orang di kamar itu mengucur begitu saja tanpa dipedulikan.
“Allah...,” terkadang suara Ratna agak keras merasakan sakit yang luar biasa dirasakannya.
Fatimah dan Najib tak henti-hentinya mengalunkan asma Allah di bibir dan lisan mereka, berharap pertolongan Allah kini adalah satu-satunya jalan harus mereka lakukan.
“Oeeek, Oeeeek, Oeeek,”
Ditandailah kamar itu dengan kehadiran seorang manusia baru, ada kelegaan dari tiap-tiap wajah di sekelilingnya setelah proses yang demikian lama yang telah mereka tunggu-tunggu.
Najib merasa lega, namun, genggaman isterinya tiba-tiba terlepas dan ambruk begitu saja di kasur kamar itu.
“Ratna! Dik! Dik!” Najib menggoncangkan bahu isterinya pelan, tak ada sahutan.
“Ada apa dengan isteri saya Bu?”
Bu Rini, bidan itu tak memberi jawaban kepada Najib tapi terus saja memeriksa Pasiennya, detak jantung, denyut nadi, dan kondisi tubuh.
“Kondisi tubuhnya lemah, bisakah Bapak dan Ibu keluar sebentar?” Rini menatap bergantian kepada Najib dan Fatimah.
Fatimah menurut untuk keluar kamar tapi Najib bersikeras untuk tetap di dalam. Rini pun tak bisa menolak namun memberi peringatan untuk tidak ribut dan mengganggunya melakukan pembersihan pasca melahirkan.
Najib sangat khawatir kini, bayi mungilnya diurus petugas dan diserahkan kepada Neneknya.
“Najib, kamu adzani dulu anakmu,” Pinta Fatimah.
“Tapi Bu...,”
“Setelah itu biar Ibu yang menjaga si kecil,” dan Najib pun tak bisa menolak. Setelah adzan dan iqomat di telinga anaknya, Najib memasuki kamar dimana isterinya ditangani. Disana, bidan telah selesai memasang tabung untuk membersihkan sisa darah yang masih tersisa. Bidan tersebut lalu keluar kamar dan mempersilakan Najib untuk menunggui isterinya si samping dipan.
Najib tanpa sadar tertidur di samping isterinya yang masih berbaring, malam menandakan pukul sepuluh malam. Wajahnya nampak lelah merasakan hari ini yang penuh debar dan harap.
Pukul 02.00 pagi. Sebuah tangan membangunkan Najib, tangan itu mengelus rambutnya pelan yang tertidur sambil duduk dan menopang di dipan.
“Dik, kamu sudah bangun?”
Ratna tersenyum pelan, menggangguk sambil mengedipkan matanya. Matanya tampak pucat.
“Ba.., Bang ma maafkan Ratna,”
“Kamu bicara apa Dik? Istirahatlah dulu, jangan banyak bicara.”
“Tak ada, waktu lagi Bang. Ma..maafkan Ratna jika selama menjadi separuh hidupmu pernah menyakiti perasaan Abang. Aa.. aa.”
“Apa yang kau bicarakan ini Dik?” sepertinya Najib mulai paham dengan situasi ini, “Adik harus kuat, adik harus sehat,” airmatanya mulai berguguran.
“A.. apakah Abang Ikhlas kepada Aa.. aa adik,” bibir Ratna mulai susah digerakkan, pelan dan lirih.
Najib gemetaran, airmatanya tak tertahan lagi, gugur tanpa tertahan. Bibirnya kelu, tangannya semakin erat menggenggam kedua tangan isterinya.
“A.. Abang Ikhlas...,” suara Ratna semakin lirih dan hampir tak terdengar.
Tangis Najib pecah, tak bisa menjawab dan hampir tak percaya dengan kejadian yang dialaminya, hanya anggukan yang bisa dia lakukan.
“Laa ilaha... illallaaahhh,”
Hening, hanya suara isak lirih tak terperi dari bibir Najib.
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian Tujuh, Garis Takdir"
Post a Comment