Dalam sebuah pidato Presiden Jokowi pada acara puncak perayaan Hari Pers Nasional di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat tanggal 09 Februari 2016. Presiden menyinggung media yang cenderung membuat masyarakat menjadi pesimis. Berita-berita yang dinilainya mengganggu masyarakat dan akhirnya tidak produktif.
Benarkah demikian?
Sebaiknya anda jika seorang jokowi lover atau jokowi hater, saya tidak begitu peduli dengan hal itu. Saya adalah seorang warga Negara Indonesia. Tahukah anda, atau pura-pura butakah pemerintah atau anda melihat semua aspek sudah dipenuhi dasi-dasi pejabat yang kantongnya penuh dengan ‘Seseran?!”
Jokowi menyebutkan bahwa, berita-berita seperti Indonesia akan hancur, Rupiah akan melemah dan tembus Rp15.000, bahkan menyasar bahwa berita menilai terorisme tak akan pernah selesai sampai kiamat. Anda bisa lihat, Jokowi menyampaikan berita-berita yang menggunggu masyarakat sehingga menjadi pesimis.
Apakah anda setuju, bahwa berita-berita yang banyak mengkritik dengan pedas sebagai berita mengganggu?
Saya tak peduli dengan hal itu. Kalau mau serius dan membela rakyat Indonesia, dan itulah amanat Undang Undang Dasar Negara Indonesia. Maka, kenapa untuk menjadi lurah saja harus bersusah payah menghabiskan uangnya pribadi untuk menjadi kepala Desa, apa yang mereka incar? Apa yang mereka inginkan karena untuk menjadi lurah saja mereka harus mengeluarkan hingga seratus juta bahkan lebih?
Seseran! Jika kau ingin tahu jawabannya. Anggara desa sekarang telah banyak terkucur tiap tahun dan kemana ujungnya dana itu akan hilang?
Ke kantong pribadi!
Lebih lanjut, anda sendiri sudah paham, dan mungkin anda mengangggap ini biasa atau anda sudah merasa, memang keumuman sehinga anda diam saja dan menganggap hal itu lumrah. Kita lihat untuk menjadi anggota dewan, ya anggota dewan daerah saja. DPRD kabupaten saja, mungkin mereka akan mengeluarkan uang hingga satu milyar bahkan ada yang lebih. Untuk apa mereka berani mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menjadi anggota dewan terhormat? Jawabannya anda pun sudah merasa umum dan biasa.
Seseran! Dana aspirasi, dana proyek anggota dewan, studi banding, uang… bla bla bla…
Apa semua orang sudah menutup mata, menutup telinga dan menutup mulutnya?
Kita paham yang terjadi di sekeliling kita, dan seolah pemerintah tidak pernah menanggapinya semestinya alias mereka dalam lingkungan itu juga.
Untuk menjadi PNS, untuk menjadi tentara, untuk menjadi polisi, untuk menjadi dokter, untuk bekerja di sebuah tempat yang bernama pemerintahan. Mereka telah menyiapkan uang untuk digunakan sebagai pelican. Ini hal suap dan korupsi, masihkah anda anggap hal biasa pak Jokowi?
Bahkan (maaf) untuk menjadi satpol PP bahkan lagi menjadi tukang kebersihan kota, mereka pun membayar untuk mendapatkan sk pekerjaan tersebut. Ini hal lumrah yang semua orang tahu.
Para lurah, dan pejabat lainnya ketika datang pekerjaan pengabdian dan mereka memang tugasnya melayani, mereka pun masih meminta upah dari masyarakat yang memerlukan pelayanannya. Sebuah urusan kecil yang harus di tandatangani seorang lurah pun terkadang mereka meminta amplop. Jabatan digunakan untuk mencari uang dan mengisi perutnya dan keluarganya dengan uang korupsi? Apakah ini hal biasa saudaraku?
Dan, masyarakat yang jujur dan ingin menegakkan kejujuran tak akan mendapatkan tempat di sisi pemerintahan. Biasanya mereka akan menjadi seorang petani dan pengangguran yang mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan dengan jalan halal, kemampuannya kandas dan dia hanya menjadi orang biasa. Kenapa? Karena kesempatan tak datang padanya ketika dia ingin jujur. Sebagian besar terjadi seperti ini.
Lalu, mereka yang hanya bekerja menjadi buruh, petani dan pekerja hanya akan menjadi bulan-bulanan orang-orang yang berkuasa, di PHK sesuka hati dan dicampakkan begitu saja ketika tak lagi produktif.
Ini yang dikatakan pemerintah rakyat sejahtera?
Bahkan, jika anda paham keadan sekeliling kita, keadaan sekarang semakin buruk karena untuk makan beras saja para petani kesusahan. Kenapa? Karena berasnya langsung habis ketika panen mengingat utangnya yang sudah menumpuk. Panen untuk bayar hutang, dan sisanya dia akan berhutang lagi.
Inilah realitas hidup di sekeliling kita, segelintir orang menjadi kaya raya, dan sebagian besar terinjak-injak dalam kemiskinan. Rakyat akan terus menjadi korban, selama korupsi masih menghantui pemerintah, kecuali ketegasan berani jujur, dan hukuman seberat-beratnya kepada koruptor.
Badarudin M.E.I.,
Not Comments Yet "Jokowi dan Media Pers yang Mengganggu"
Post a Comment