”
Anjing dari neraka!”
Teriakan-teriakan itu seolah membuat hatiku tergetar penuh luka, bagaimana tidak kalimat-kalimat kotor itu keluar dari orang-orang ’suci’, orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengabdikan dirinya, menyerahan dirinya sepenuhnya pada Tuhan, mereka terlihat tiada jeda dalam kebaikannya.
Namun, teriakan itu diamini oleh semua orang yang ada. Seolah benarlah kata-kata itu, walaupun secara esensial sangatlah jorok dan bau, di telingaku saja aku sudah tak bisa mempretasikan lagi apa maksudnya, seolah sebuah suara yang tak ada di dunia, dan memang tak pantas ada di dunia.
”Kafir! sesat dan menyesatkan! Surga haram bagimu!”
Tak ada lagi setitik kata penerimaan, tak ada lagi secercah harapan untuk sebuah cahaya hati, tak ada lagi sedenting nilai untuk mendapatkan seutas air di padang pasir yang gersang. Hatiku menangis dalam keramaian, mensifati segerombol manusia yang mengklaim kebenaran, tanpa bertanya dahulu kepada Tuhan.
Belum genap langkahku, kemarin mendapatkan petuah dari orangtua yang dianggap asing dari kehidupan. Dia memberiku wejangan;
”Bahaya ’kerelaan’ atas dirimu dalam lapangan ini dan dengan terus-menerus dan berulang-ulang, akan dapat menghilangkan perasaan bersalah, selanjutnya kamu akan kehilangan indera menuju setulus penghambaan sebagai rasa pasrahmu pada Tuhanmu, kehilangan pula akan sensitifitas pada keutamaan, serta hilangnya kikisan terhadap kebenaran.”
Sebuah bahaya selalu mengintai, setiap orang yang bersih. Intaian mata iblis begitu dekat di atas kepalanya, baik saat sendiri maupun saat bersama orang suci, atau saat sedang beribadah khusyuk atas inisiatif perasaannya yang menghadirkan Tuhan di hati dan hadapannya. Belum genap pula, kakiku pergi dari petuah itu, bahwa aku telah memasang telingaku begitu kuat, serta hatiku menerimanya dengan baik. Saat lelaki tua yang asing dari kehidupan itu berkata;
”Pengejekan dan pencelaan atas saudaramu sesama Muslim karena perbuatan dosa yang dia lakukan, adalah lebih besar durhakanya ketimbang dosanya (dosa pembuat dosa tersebut). Dengan ejekan yang engkau lontarkan itu, berarti engkau meneriakkan dengan lantang tentang ketaatan dan kesucianmu serta meyerukan bahwa dirimu terbebas dari dosa dan kesalahan. ”
Ejekan-ejekan itu tetap berlangsung, hingga para orang ’suci’ itu melempari lelaki kurus itu dengan batu. Batu yang mereka ambil dari bawah-bawah mereka, yang mereka ambil tanpa melihat batu itu terjal atau halus, tanpa melihat batu itu akan melukai atau menghinakan, dan mereka memberi cap sebagai sebuah hukuman suci selayak kain kafan yang belum ternoda oleh tanah gembur.
Aku terdiam, tak berani mengerang dan meminta sesuap nasi, bahkan aku terpaku sambil airmataku menetes menyaksikan si kurus di lempari batu. Tubuhnya yang ceking terluka dan tergores, darah mengalir, tapi dia terus meminta maaf dan memohon diberikan kesempatan untuk kembali meminum seteguk air taubat, walau tak bisa seluruh danau diminumnya.
Tuhan, dimana Engkau...., saat hambaMu yang ceking itu meminta belasMu. Bagaimana tanggapanmu, sedangkan hamba-hambaMu itu mengklaim dengan nash dan dalilMu, bahwa si ceking tak mungkin diampuni.
”Sesat! kafir!”
Teriakan-teriakan ramai-ramai itu bagai demontrasi besar menjatuhkan sebuah rezim yang lama bertahta, atau seperti pergolakan kudeta besar-besaran pada abad penindasan nazi. Mereka geram, dan mengambil batu semakin banyak, hujan batu terjadi, menimpa tubuh si kurus yang hanya berbalut kulit saja tulangnya.
Si kurus pasrah, dia menjatuhkan dirinya. Lututnya bertemu paksa dengan tanah, darah telah tergerus paksa dari tubuhnya, dia mensujudkan dahinya di tanah, penuh pengharapan akan kemaafan yang betul-betul diharapkannya. Dia menangis, dan airmatanya jatuh begitu saja ditanah, meresap dan hilang.
Aku mendekatinya, dan mengangkat tubuhnya untuk bangun.
”Tidak layak bagimu terhina, Tuhan memulyakan hamba-hambaNya!”
Dia tak mau bangun, matanya nyalang melihatku, ”Kau tak tahu, betapa besar dosaku kawan. Biarlah orang-orang suci itu menghukumku hingga kematian datang meleraikan jasadku. Hal ini pantas kudapatkan.”
”Hukum hingga mati! sampah bagi Tuhan! laknat baginya!” lemparan batu kembali deras mengarah kepada kami. Bahkan, aku terkena salah satu batu dan menutupi tubuhku dengan baju besarku. Aku berusaha keras menghalangi batu yang menimpa tubuh si kurus. Namun, dia berdiri dari sujudnya, dan mendorongku keras hingga aku terpental jauh dan jadilah hujan batu kembali menghampirinya.
”Pergilah! kau tak pantas terkena batuku, biarlah dosaku kutanggung sendiri. Kau orang baik, kau harus menghukumku juga, agar dosaku hilang tak berbekas saat aku menghadap Tuhan!” tetesan airmatanya meyakinkanku, mengangguk pula wajahnya. Penuh permohonan agar aku menjauh darinya.
”Anjing dari neraka!” teriakan-teriakan itu semakin membuat panas telingaku, dan si ceking masih saja berdzikir dengan lisannya, bergetar tubuhnya hendak bangun kepayahan.
Aku memaksa mendekat dan membantunya berdiri, dia menolak dan kupaksa tegak berdiri.
”Pergilah, aku mohon. Aku tengah menghapuskan dosa-dosaku!”
”Aku tidak akan meninggalkanmu wahai hamba yang bertaubat.”
”Kumohon, pergilah,” wajahnya meneteskan airmata dan memelas.
”Aku akan pergi, tapi kamu juga harus meninggalkan tempat ini. Aku akan mengantarmu hingga ke gerbang, setelah itu carilah Tuhan dimanapun kau mau,” aku meyakinkannya.
Sebuah batu terlempar kearah kepala si ceking, aku tak lagi membiarkannya dan kutangkap penuh ketepatan. Tertangkap dalam cengkeramanku, dan kulempar ke langit, agar Tuhan mengetahui protesku.
”Kalian semua wahai orang-orang yang mengaku diri ’suci’, Kalian adalah korban kebanggaan atas diri sendiri, bangga dengan ketaatan dan ketakwaan kalian, yang lalai bila rasa bangga itu telah membutakan akan hakikat kelemahan setiap makhluk, bahkan kalian telah lupa pada dosa dari rasa bangga tersebut!
Terasa ringankah kalian, dan tidak takutkah kalian pada azab Tuhan! Lalu kalian seenaknya mengobral ancaman-ancaman Tuhan dan legalitas ego kalian. Sedangkan kalian penuh khusyuk tipuan, menengadahkan tangan dan memohon padaNya siksa bagi orang yang berdosa lagi lemah!”
”Dia juga iblis, dia juga anjing dari neraka! Mereka saling berteman dalam keburukan!” seseorang yang bertubuh gemuk tiba-tiba menyalak.
”Benar! jangan sampai anak-anak kita terjangkiti kekafiran mereka! Usir mereka!” seorang wanita yang tengah memegangi kepalanya ikut berterika garang.
”Bunuh saja mereka berdua!” Seorang lelaki tua yang hampir-hampir tak kuat berdiri dengan tongkat di tangannya penuh kebencian menatapku dan si ceking.
Sejak kapan mereka kehilangan ketawadhu’an yang diajarkan nabi mereka? sejak kapan mereka menjadi manusia-manusia legalitas, sejak kapan mereka menjadi manusia-manusia yang menetapkan hukum? Bukankah hukum itu milik Tuhan, apa hak mereka!
Seluruh orang itu mengambil batu dari bawah-bawah kaki mereka, penuh kebencian dan siap melempar dengan kekejaman Hitler saat mengeksekusi jajahannya yang mencapai 35 juta korban meninggal.
”Baiklah teman, aku akan pergi mencari Tuhan. Yang penting kau tak menghujat mereka lagi ya? Mereka adalah orang-orang suci, mereka adalah orang-orang yang diberkahi Allah, dan mereka adalah ahli-ahli surga. Sedangkan aku, adalah pendosa dan layak mendapatkan siksa.”
Kami berdiri dan meninggalkan tempat itu, menuju batas peradaban orang-orang yang berfatwa. Aku menuntunnya, kakinya penuh luka dan susah berjalan. Lemparan batu beterbangan bagai kembang api yang dilemparkan dari langit, memenuhi penerangan semesta, hingga membuyarkan pandangan mata yang mencoba menantangnya.
Kami telah mencapai sebuah titik, di dekat perairan segar yang menjulang. Teriakan-teriakan hujat telah hilang ditelan angin, hamparan danau begitu menyegarkan. Sejuk tercipta, seolah Tuhan mengipasi kami, hilang sudah kepenatan dan himpitan keriuhan.
Si ceking terseok mendekati air, dia mencuci mukanya yang penuh debu dan darah. Aku mengikutinya menghirup air, dan menelannya penuh syukur.
”Apakah Tuhan menerimaku yang penuh dosa?” si ceking bergumam.
”Tuhan pasti mengampuni setiap hambaNya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh teman,” aku meyakinkannya.
Saat aku hendak menjawab, seekor ikan keluar dari air. Warnya penuh kemilau bagai pelangi yang melengkung di langit. Ikan itu membuka mulutnya, kukira mencari udara segar, namun dia bertahan memerhatikan kami berdua.
Ikan indah itu bertahan lama, dan bibirnya bergerak, ”Jika kau datangi Tuhan dengan kesungguhan, tak peduli sebesar gunung dan sepenuh langit dosamu. Dia akan datang berlari dan menerima persembahan terindah yang kau berikan. Karena Tuhan lebih gembira menerima taubat hambaNya, daripada seorang manusia yang kehilangan unta dan bekalnya saat di padang gersang tanpa ada kehidupan.”
”Tapi...,”
Belum sempat si ceking meneruskan keheranannya, siikan telah lenyap menyelam ke kedalaman air.
Belum jernih pikiran kami mencerna, tiba-tiba ada uap yang terangkat dari permukaan air. Uap itu mengangkasa, semakin tebal seperti awan yang bergerumul-gumul saat hendak hujan.
Mendung itu menebal, bungkah penuh kegelapan tercipta, keratnya semakin menciptakan ketakutan. Mendung itu perlahan bergerak, melewati arah kami yang memandanginya penuh takjub, tepat di atas kami.
Mendung itu turun dan mengelilingi kami, kesejukan teraroma kasturi, kabut tipisnya sangat sejuk bagai sebuah sutera yang terpakai reraja dan permaisuri. Kami nyaman berada di dalamnya. Awan itu memenuhi kami, si ceking itu tersenyum kepadaku. Dia naik karena ada undakan yang tercipta dan berbentung kabut tersebut.
Sebagian mendung itu membentuk sebuah kursi, dan si ceking duduk disana. Mendung bergerak kembali, terangkat pelan dan tubuh si ceking terangkat pula melebihi kepalaku yang terheran-heran.
”Dengarkan aku wahai manusia,” si ceking seolah raja yang bertitah penuh wibawa, ”Aku adalah makhluk yang diutus, dan dari pendudukmu, hanya kaulah yang akan diselamatkan dari adzab. Aku akan pergi dan membinasakan kaummu atas perintah Tuhan, mereka telah tertipu dengan angan-angan dan kesombongan. Pergilah dan carilah tempat, dimana orang saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran dengan penuh kelembutan.”
Aku bingung, ”Lalu..., atas dosa apakah mereka akan dihancurkan?”
”Barangsiapa mereka tawadhu’ dan bangga atas ketaatannya pada Allah, dan mereka sering menghujat orang lain dengan landasan ketaatannya, maka mereka telah menantang Allah!”
”Aku...”
”Pergilah.” si ceking pergi bagai seorang raja yang ditandu. Awan itu bergumpal semakin tebal, meninggi dan pergi kearah dimana kami tadi pergi. Dan, terjadi ledakan besar yang memekakkan telinga berasal dari arah tempat kelahiranku, dimana aku biasa hidup dengan ’orang-orang suci’.
man asbata linafsihi tawadhuan, fahuwa mutakabbirun haqqon (barangsiapa yang merasa dirinya tawadhu, maka dia adalah orang yang benar-benar takabur) ibnu Athaillah rahimallah.
Not Comments Yet "KUTU yang Tersesat"
Post a Comment