Berjabat Tangan, Antara Akrab dan Makna
Dua orang sahabat bertemu di serambi masjid.
“Assalamu’alaikum” Sapa Rohman
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” Farid menjawab salam tersebut.
Keduanya tersenyum, mereka berjabat tangan biasa dengan tangan kanan masing-masing, namun hanya satu tangan, mereka kemudian seolah-olah sedang saling mengobrol akrab. Apa maksud dalam salam demikian?
Sesungguhnya, mereka akrab tapi hatinya tidak menyatu dalam keakraban tersebut. Ini semisal ada teman lama bertemu, lama tak melihat kabarnya.
###
Scene Lainnya
Dua orang bertemu lagi,
Mereka saling berucap salam.
“Assalamu’alaikum” Sapa Rohman menyodorkan tangannya.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” Farid menjawab salam tersebut, tangannya ikut terjulur namun tangan sebelah kirinya di sembunyikan di belakangnya.
Salam seperti ini, seolah salamnya tidak sepenuh hati, seolah ada yang disembunyikan, ada yang tidak ingin dia bagikan kepada teman, dan juga tidak mempercayai temannya.
***
Scene Lainnya
Dua orang bertemu lagi,
Mereka saling berucap salam.
“Assalamu’alaikum” Sapa Rohman menyodorkan tangannya.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” Farid menjawab salam tersebut, tangan kirinya dimasukkan ke kantong baju kokonya.
Salam seperti ini, adalah orang yang malas menyangga hidupnya sendiri, apalagi menanggung kesusahan orang lain. Orang yang terbiasa salam seperti ini, biasanya hanya mementingkan dirinya sendiri.
***
Scene Lainnya
Dua orang bertemu lagi,
Mereka saling berucap salam.
“Assalamu’alaikum” Sapa Rohman menyodorkan tangannya.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” Farid menjawab salam tersebut, tangan kirinya tergeletak ke bawah tanpa ekspresi dan wajahnya menoleh ke tempat lain, mereka pun sambil terlihat obrolan namun Farid juga kadang memandang ke tempat lain, seolah acuh tak acuh.
Salam seperti menandakan orang yang tak punya etika, tak menghormati orang lain, asal-asalan dalam berteman, orang seperti ini tak bisa dijadikan teman baik, karena dia sering tak tulus saat kita kesusahan.
***
Scene Lainnya
Dua orang bertemu lagi,
Mereka saling berucap salam.
“Assalamu’alaikum” Sapa Rohman menyodorkan tangannya.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” Farid menjawab salam tersebut, Satu tangan kanannya terhulur, sedangkan tangan kirinya memegang sikut tangan kananya. penuh keakraban sambil tersenyum simpul.
Salam seperti ini, adalah salam penuh arti, dia sangat menghormati anda sebagai orang yang sangat dia hormati. Orang seperti ini insyaallah tidak akan mengkhianati anda, namun juga sungkan untuk bercerita masalah hidupnya, biasanya dia orang yang tegar menjalani masalahnya sendiri.
* **
Scene Lainnya
Dua orang bertemu lagi,
Mereka saling berucap salam.
“Assalamu’alaikum” Sapa Rohman menyodorkan kedua tangannya sambil tersenyum.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” Farid menjawab salam tersebut, kedua tangannya terhulur, namun wajahnya agak kusut, senyuman juga terasa berat hendak dimunculkan meskipun senyuman itu ada tapi agak buyar.
Salam seperti ini, si Farid sedang membutuhkan bantuan. Masalah hidupnya sedang menyulitkan pikirannya, sebaiknya anda berkata padanya, “Saudaraku, berceritalah. Siapa tahu Allah menjadikanku perantaraNya agar aku bisa membantumu.”
***
Scene Lainnya
Dua orang bertemu lagi,
Mereka saling berucap salam.
“Assalamu’alaikum” Sapa Rohman menyodorkan kedua tangannya sambil tersenyum.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullah,” Farid menjawab salam tersebut, senyumnya juga merekah.
Mereka saling tersenyum dan kemudian saling menepuk pundak satu sama lain.
Salam seperti inilah yang dirindukan? Karena kita ada untuk saling melengkapi, persatuan ummat akan terwujud jika saling berjabatan tangan saja, tulus dan sudah member keteduhan, dan bukan pancaran kecurigaan dan saling tidak percaya.
Dari Al Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
“Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud no. 5212, Ibnu Majah no. 3703, Tirmidzi no. 2727. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih).
Jabat tangan seperti ini selain berpahala menggugurkan dosa, juga menggugurkan kesombongan, dan menggugurkan perbedaan.
Not Comments Yet "Analogi Jabat Tangan dan Akhlaqul Karimah"
Post a Comment