Gerbang Kesehatan. Bahaya rokok sudah diketahui semua orang, bahkan setiap orang meskipun dia perokok pasti akan bisa menerangkan racun yang ada di dalam rokok yang bisa menjadi sebab terbesar terserangnya penyakit kanker yang mengerikan dunia kesehatan.
Ya, kanker adalah penyakit yang hingga kini penderitanya hanya sedikit sekali yang bisa sembuh sekali setelah dioperasi, dan sisanya gagal dan meninggal dunia.
Rokok sebagai salah satu penyebab terbesar kanker, menjadi momok bagi para perokok, di samping mereka tak bisa meninggalkan kebiasaan merokok, mereka takut jika penyakit kanker menimpa merak.
Namun, sahabat gerbang ada informasi yang muncul tentang perokok pasif, informasi tersebut menyebutkan bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif, yang lebih mengherankan, yaitu orang yang hanya menghisab asap rokok dan tidak merokok ternyata lebih berisiko terkena kanker paru-paru. Apakah alasannya, padahal dia tidak merokok bukan? Hanya asap saja yang mungkin masuk ke dalam tubuhnya.
Informasi bahwa para perokok pasif, atau hanya menghisap asap rokoknya saja dari seorang perokok lebih beresiko kanker lebih besar ternyata informasi ini salah dan tidak akurat. Sebelumnya, tersebar informasi bahwa para perokok pasif lebih berbahaya ketimbang para perokok itu sendiri. Nyatanya, informasi tersebut keliru, perokok yang aktif tetaplah memiliki resiko yang lebih besar karena dia selain menelan racun, dia juga menghisab asap sacara langsung.
dr Elisna Syahruddin, SpP(K), PhD, konsultan onkologi paru dan mediastinum dari RS Persahabatan mengatakan perokok pasif adalah orang yang sehari-hari terpapar asap rokok, padahal tidak merokok. Hal ini membuat mereka lebih berisiko terserang kanker paru daripada orang yang jarang terpapar asap rokok.
"Misalnya dia serumah sama perokok. Ini perokok pasif. Tentu risikonya lebih besar daripada orang yang tidak serumah sama perokok. Tapi tetap risiko perokok lebih tinggi," ungkap dr Elisna, kepada detikHealth, di RS Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (5/2/2015).
Dijelaskan dr Elisna, perokok pasif terpapar polusi asap lebih banyak daripada non-perokok. Jika non-perokok hanya terpapar asap polusi di jalan raya, perokok pasif juga terpapar polusi asap rokok di rumah.
"Istilahnya indoor polution. Jadi bukan risikonya lebih tinggi. Tapi lebih kepada sakit hati. Saya nggak merokok kok kena kanker paru. Sementara yang perokok kan sudah tahu risikonya," tuturnya lagi.
Oleh karena itu dr Elisna menyarankan bagi yang tinggal satu rumah dengan perokok, untuk dapat melakukan pencegahan. Misalnya dengan meminta pasangan berhenti merokok.
Selain itu pencegahan juga harus dilakukan, yakni dengan melakukan pola hidup sehat. Tak sulit, pola hidup sehat bisa dilakukan dengan melakukan olahraga rutin dan menjauhi makanan tidak sehat.
"Olahraga dan makan sehat. Dan paling penting, hidup positif, jauhi stres. Kalau stres akan melepaskan hormon tidak baik yang merugikan tubuh," ungkapnya.
Not Comments Yet "Menghisap Asap Rokok Tanpa Merokok, Lebih Berisiko Terkena Kanker Paru-Paru?"
Post a Comment