8. Perjalanan Senyuman
“Ayah! Ayah!” anak berusia dua tahun itu menarik-narik ujung jilbab kecilnya, “Lepas, lepas.”
“Aprilia kepanasan ya?” Najib melepaskan jilbab anaknya itu pelan.
Aprilia mengangguk. Ratna Aprilia nama anak itu, persis sama dengan nama ibunya yang telah meninggal dunia saat melahirkannya. Aprilia berlari kearah neneknya sambil menari dan melompat, Najib memperhatikannya penuh senyuman jika sudah demikian hatinya akan selalu teringat isterinya jika memperhatikan Aprilia anaknya.
Najib belum berniat menikah lagi, seolah berat rasa hatinya hendak memberikan cinta baru kepada wanita baru. Dia merasa, cukuplah hidupnya beserta anaknya Aprilia, dia merasa sudah cukup dengan hidup demikian.
Najib berlari kearah Aprilia dan neneknya. Dia merangkul anaknya, Aprilia tertawa karena merasa dikejar Ayahnya. Najib membawanya keluar rumah dan menggendongnya di bahu kanannya sambil memegang kedua tangan anaknya dan diangkat keatas, “Tinggi-tinggi sekali, Aprilia terbang tinggi sekali,” bersenandung ceria.
Najib menatap langit yang cerah, wajah isterinya tergambar jelas dalam bayangannya, tersenyum penuh cinta di antara awan-awan yang bergerombol.
“Disana Aprilia, disana Ibumu menunggu kita,” Najib menunjuk langit dengan telunjuk tangan kanannya.
“Ibu, horee, Ibu disana,” Aprilia memperlihatkan gigi-giginya yang beberapa ada yang kerepes. Najib tersenyum bahagia melihat anaknya yang tiap hari tumbuh begitu sempurna.
“Najib,” tiba-tiba Fatimah sudah berada di belakangnya dan ikut menatap langit.
“Iya Bu,” Najib menoleh kearah ibunya sambil menurunkan Aprilia dari bahunya.
“Ratna pasti mengizinkan jika kamu menikah lagi untuk menjadi ibu bagi Aprilia, dan membuatmu tidak lagi sendirian. Bukan apa-apa, Ibumu ini sudah tua dan tidak lama lagi ak...,”
“Sudahlah Bu, Najib belum terpikirkan untuk menikah lagi. Biarlah nanti saja Najib pikirkan kembali ya,” Najib tersenyum kepada Ibunya.
Bukan sekali atau dua kali Fatimah menyinggu masalah pernikahan kedua bagi Najib, sudah sering dan berkali-kali. Namun, jawaban Najib selalu demikian. Belum terpikirkan. Fatimah hanya khawatir tentang usianya yang sudah mendekati 70-an dan belum akan tenang jika meninggalkan dunia sedangkan anaknya Najib belum memiliki pasangan hidupnya lagi.
“Bagaimana kalau Ibu mencoba mencarikan untukmu, nanti apabila kau cocok maka diteruskan dan jika tidak kamu bisa membatalkannya,” Fatimah takut menyinggung perasaan anaknya yang kini berstatus duda beranak satu tersebut.
“Ibu tidak usah repot-repot, nanti-nanti sajalah Bu, Najib ingin fokus pada kerjaan dan membesarkan Aprilia dulu.”
“Ibu tidak repot Anakku, anggap saja ini permintaan terakhir seorang Ibu yang sudah mendekati akhir hidupnya,” Fatimah memegang pundak anaknya pelan.
“Kenapa Ibu berkata demikian?”
“Beginilah hidup anakku, Ibu dulu pernah memaksakan keinginan Ibu untuk menikahkanmu dengan Ratna, dan kini ibu juga harus mencarikanmu kembali jodoh keduamu. Sepertinya inilah tugas terakhir Ibumu.”
“Ibu...,” Najib menatap mata Ibunya yang penuh pengharapan. Najib tak lagi bisa memiliki alasan untuk menolak permintaan Ibunya itu. Selain itu, kalau misalnya ada wanita mana yang mau menikah dengan duda beranak satu seperti dirinya? Bukankah itu akan menyulitkan Ibunya mencarikan wanita untuknya tersebut?
Tapi, lagi-lagi Najib tak lagi bisa menolak Ibunya.
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian Delapan, Perjalanan Senyuman"
Post a Comment