Musim Semi
Daun-daun tampak segar dalam pandangan mata, tentu hati akan lebih sejuk dan damai kala mensyukuri. Kupu-kupu semakin banyak terlihat karena musim ini begitu damai untuk bertelur di dedaunan.
Reranting yang awalnya tinggal batangnya, kini telah ramai ditumbuhi dedaunan segar. Musim semi telah tiba, embun pagi begitu sejuk terasa, hawa siang hari tak panas menyengat. Segalanya terasa indah, begitupun indahnya kedua sejoli yang tengan duduk di pelaminan, ya, akhirnya Najib Khaelani dan Ratna Aprilia menikah.
Awalnya, Ratna masih takut kalau Najib kurang setuju karena awal bertemu murung, namun akhirnya Najib mengutarakan niatnya untuk benar-benar menikah karena Allah semata. Subhanallah, Ratna menyetujuinya. Dan begitulah Allah mengatur urusan hambaNya. Ratna langsung menyetujui karena Najib menikahinya karena Allah, bukan karena parasnya maupun kasihan kepadanya.
Setelah akad nikah, Najib melayani tamu-tamunya, dia tidak mau hanya duduk saja di pelaminan. Bagitupun Ratna dia ikut malayani tamu-tamu wanita. Mereka demikian kompak turun dari pelaminan dan ikut melayani di meja makan maupun di penerima tamu, mereka seolah bukan mempelai melainkan pelayan sebuah toko. Saat pandangan mereka bertemu, mereka saling tersenyum penuh kesyukuran.
Fatimah tak lepas bersyukur, melihat puteranya sekarang memiliki isteri dengan demikian dia kini memiliki dua anak. Matanya tanpa terasa berkaca-kaca, semoga kalian bahagia selama-lamanya, amin.
Najib sudah mulai menerima kehidupannya, karena ketika kita menerima kehidupan kita maka disitulah letak bahagia. Inilah jalan Allah, Ratna adalah pasangan yang diciptakan Allah untuknya. Dia sadar, bahwa dia harus membahagiakan pasangannya sebaik-baiknya. Cintanya adalah karena Allah, nama Fitri yang dulu sempat ada di hatinya kini dia buang jauh-jauh, memulai hidupnya penuh kesyukuran adalah sebaik-baik kehidupan.
“Bang, ayo bangun, masak kalah sama ayam,” Ratna mengecup pipi Najib yang masih tertidur.
Najib membuka matanya perlahan, “Jam berapa ini Dik?”
“Jam dua,”
“Hmm..., masih jam dua, entar aja bangunnya ya?” Najib tersenyum sambil mengedipkan matanya.
“Tidak bisa, nanti kebablasan kita ketinggalan jatah ketemu sama Allah. Ayo Bang,” Ratna mulai menarik tangan Najib.
Najib tersenyum, “Oke sayangku,” Najib mencubit mesra kedua pipi isterinya itu. Najib bersyukur memiliki Ratna. Sungguh, rencana Allah itu indah.
Mereka shalat bersama, menasehati bergantian, saling mengingatkan. Lengkap terasa kehidupan mereka, walau ada masalah namun mereka dapat menyelesaikannya dengan musyawarah dan saling pengertian.
Hari berganti hari, seolah kita melipat kalender karena memang sudah waktunya untuk mengikuti alur waktu. Bahagia berganti bahagia menghiasi Najib, Ratna dan Ibunya Fatimah. Mereka hidup sangat bahagia.
Bulan berganti bulan, Ratna menyelesaikan kuliahnya dengan baik meskipun ada jabang bayi dalam kandungannya. Ratna memang pandai memasak, makanya Najib membuka rumah makan kecil di dekat kampus dan ternyata peminatnya ramai. Dalam hitungan bulan mereka akhirnya bisa membangun tempat sendiri yang semula menyewa, dan kini rumah makan itu semakin besar. Najib banyak belajar dari isterinya, terutama belajar memasak.
Bumbu kehidupan mereka terasa indah, namun sekali lagi, skenario Allah berbeda dari keinganan Najib dan keluarganya. Ratna masuk rumah sakit karena kondisi kandungannya lemah. Najib sudah melarangnya, namun Ratna selalu memaksa untuk mengurusi rumah makan. Baru setelah masuk rumah sakit itu, Ratna kini menurut dan hendak beristirahat hingga kondisinya membaik bahkan cuti dulu untuk melahirkan anak mereka. Rumah makan diserahkan pengelolaannya kepada Ibu mereka.
Musim semi terasa indah, kadangkala cukup membuat kita terpesona dan melupakan jenak-jenak masalah yang dialami. Namun, musim semi tak selamanya ada, selalu berganti dan berputar sebagaimana mestinya.
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian Enam, Musim Semi"
Post a Comment