(Untuk pembukaan setiap khotbah, silakan cari sendiri. Ini cuma inti khotbah)
Yaa ayyuhalladzi na amanuttaqullaha haqotuqotihi walaa tamutunna illa wa antum muslimun.
Jamaah jumat yang berbahagia, marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan, mewujudkan iman yang sebenar-benarnya dari lisan, hati dan perbuatan kita. Sehingga, kita benar-benar menjadi orang muslim yang menjalankan perintah Allah dengan ikhlas serta menjauhi semua larangan Allah dengan keikhlasan pula.
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi).
Kaum muslimin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya n mencela sikap tamak kepada dunia. Bahkan, Allah ‘Azza wa Jalla sangat merendahkan kedudukan dunia dalam banyak ayat-ayat Alquran. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu :
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali ‘Imran/3:185)
Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Allah ‘Azza wa Jalla juga menjadikan kefakiran di depan matanya, selalu takut miskin, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla karuniakan kepadanya.
Dunia yang dapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Allah, mengorbankan hak-hak isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya.
Orang Muslim tujuan hidupnya adalah akhirat, karena itu ia wajib berbekal untuk akhirat dengan bekal terbaik yaitu takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla . Takwa yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apabila seorang Muslim beriman dan bertakwa kepada Allah, maka ia akan diberi rezeki dari arah yang tidak diduga dan diberikan jalan keluar dari problematikanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…” (Ath-Thalaq/65:2-3)
Jamaah Jumat yang dimulyakan Allah,
Dunia dan seisinya adalah ujian bagi orang yang beriman. Oleh karena itu, Allah Ta’ala akan menolong orang yang beriman manakala ia selalu mengutamakan akhirat di bandingkan dunia yang selalu menipu manusia. Dan barang siapa yang mengharap kesenangan dunia semata, maka usahanya hanya akan menjadi sia-sia belaka. Allah Ta’ala berfirman :
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud/11:15-16)
Jika kita melakukan kegiatan dalam hidup kita, dan pada akhirnya apa yang kita upayakan adalah kesia-siaan tentu kita akan menjauhi perbuatan buruk dan terlena dengan kenikmatan duniawi. Marilah kita berjuang sekuat tenaga agar hidup kita berkah dan selalu dalam perlindungan Allah SWT. Amin ya rabbal’alamin
Khutbah kedua:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: yang artinya, ‘Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutup kefakiranmu’.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Demi Allah! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya -Yahya (perawi hadits) berisyarat dengan jari telunjuknya- ke laut, maka lihatlah apa yang dibawa jarinya itu? (HR. Muslim dan Ibnu Hibban).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan ini, bahwa dunia seperti air yang menempel di jari yang dicelupkan ke dalam lautan, sedangkan akhirat adalah ibarat lautan yang sangat luas. Dunia ini sedikit dan fana, sedangkan akhirat penuh dengan kenikmatan dan kekal abadi.
Jamaah Jumat yang dimulyakan Allah,
Maka, kita sebagai umat islam, harus menjadikan akhirat dan ibadah sebagai tujuan pokok dalam setiap kegiatan kita. Mudah-mudahan Allah memberi kita hidayah dan perlindungannya, agar kita tak terjerumus dalam nafsu dunia dan serakah terhadap dunia, sebaliknya kita harus menjaga diri kita agar selalu berlaku penuh ikhlas dan sabar dan selalu dekat dekat dengan Allah, amin ya rabbal ‘alamin.
Not Comments Yet "Utamakanlah Akhirat, Agar Hidup Mulia"
Post a Comment