Malam itu keluarga Imran makan malam bersama seperti hari – hari biasa. Angin malam masuk melalui celah – celah yang ada. Begitu dingin. Akan tetapi, percakapan keluarga itu tampak tak terganggu sama sekali oleh hal-hal yang lain kecuali perbincangan masalah perlombaan sepak bola besok.
“Apa aku besok bisa mencetak gol, ya Mi?” Tanya Sidiq sambil memotong telur dan melahapnya.
“Kamu pasti bisa anakku. Bukankah kamu sering latihan. Kamu harus berjuang dan berusaha keras! Mami dan Papi pasti akan ikut menonton besok.”
“Benar Mi?” Sidiq tersenyum gembira.
“Benar! Tapi kamu harus berjuang dengan sungguh – sungguh. Papi bangga padamu karena kamu juga terpilih sebagai pemain depan, jadi punya kesempatan untuk mencetak gol,” Imran tersenyum pada anaknya itu.
“Sidiq akan berusaha sekuat tenaga Pi! Mi!”
“Papi juga janji, jika timmu menang dan kamu dapat mencetak gol, Papi akan belikan tas dan sepatu baru untukmu. Bagaimana?” Pancing Papi.
“Sidiq janji Pi, dan Papi juga harus menepati janji!”
Malam itu Sidiq seolah tidak sabar menunggu matahari nongol. Kakinya seolah tak bisa diajak diam karena ingin sekali menendang bola. Maka malam itu, Sidiq keluar rumahnya dan berlatih sebentar untuk mempersiapkan strategi untuk pertandingan besok.
Esok harinya, di lapangan pusat kota tampak banyak sekali penonton yang memadati lapangan sepak bola yang ukurannya diperkecil karena khusus untuk anak – anak SD. Hari ini merupakan final pertandingan memperebutkan piala bergilir. Sidiq masuk tim sekolahnya dan kini sedang menghadapi lawan terakhirnya.
Lawannya kali ini adalah juara bertahan dua kali berturut – turut dan mereka memang tangguh. Sedangkan di tim Sidiq sebenarnya ini pertama kalinya mereka masuk final karena di tahun sebelumnya selalu gagal ketika kualifikasi tahap awal.
Pertandingan dimulai dan peluit dibunyikan. Bola terpelanting kesana – kemari. Semua penyerang berebut mencetak gol, penjagaan di setiap tim begitu kuat sehingga Sidiq sering gagal menerobos pertahanan musuh. Bahkan, tim Sidiq telah kemasukan sekali dan keadaan timnya melemah.
Hingga setengah permainan dan pertukaran tempat, tim Sidiq telah kemasukan bola sekali. Beberapa temannya ada yang putus asa dan semangat mereka seolah hilang. Sidiq melihat ke penonton, dilihat Mami dan Papinya yang mendekatinya.
“Menang atau kalah tidak apa – apa, yang penting kamu berusaha yang terbaik. Tapi ingat jangan pernah menyerah. Sepatu dan tas baru perjanjian kita sedang menunggumu.”
Ketika waktu istirahat hampir selesai, Sidiq menatap teman – temannya dan berkata, “Teman – teman, percayalah padaku, kita pasti menang! Jadikanlah bola itu sebagai temanmu yang tidak akan kalian biarkan terebut oleh mereka. Jika bola sampai terebut anggaplah kalian kehilangan seorang teman.”
Peluit berbunyi, tim Sidiq seolah tersenyum walau kalah satu poin. Mereka kini bekerja sama dengan baik, tak mementingkan diri sendiri, bola digiring bersama dan kini giliran Sidiq diberikan peluang oleh tendangan Anto, dan..., gool! Tendangan memutar Sidiq memotong bola yang melaju dari kanan gawang lawan.
Permainan tinggal lima menit dan kedudukan masih sama, setiap melempar bola dari tim Sidiq selalu berteriak, “Tolong jaga temanku, jangan biarkan orang lain merebutnya.” Jadilah semua orang heran dan tim lawan juga bingung, tapi Sidiq segera mengambil kesempatan. Dia menggiringnya.
Waktu tinggal 30 detik, Sidiq masih menggiring bola di tengah lapangan. Jika menendang langsung, kesempatan masuk setengan – setengah antara berhasil dan gagal. Dan semua lawan menghadangnya karena mereka tahu tendangan Sidiq terkenal dari jarak yang jauh karena ketepatannya.
“Tak ada waktu!” Tendangan dilepaskan, semua maju ingin menghadang bola, tapi arah mereka salah. Sidiq memberikannya pada Samsul yang berada di dekat gawang lawan di sebelah kiri.
Waktu tinggal 10 detik saat bola melayang kearah Samsul. Dan saat waktu tinggal 5 detik, sebuah sundulan dan..., gol terjadi saat detik ke-2 terakhir.
Samsul dipeluk teman – temannya. Sidiq hanya tersenyum, “Itulah kepercayaan seorang teman.”
Mami dan Papi menghampiri Sidiq, mereka bangga akan apa yang dilakukan Sidiq yang memberi kesempatan kepada teman untuk bekerja sama bukan kerja secara sendiri karena hasilnya lebih sempurna. Sepatu dan tas baru itu akhirnya dibelikan Papi juga, Sidiq telah menepati janjinya dengan kerja sama yang telah disiapkannya tadi malam.
Berjuanglah pahlawan – pahlawan masa depan
Kalian adalah pewaris kesungguhan tanpa kenal putus asa
Not Comments Yet "Janji Sidiq"
Post a Comment