5. Ratna Aprilia
Najib menyegerakan langkahnya, walau berat diutarakan juga meminta maaf kepada Ustadz Ghafur untuk membatalkan perjodohannya. Ghafur tak bisa berkata banyak, dia memahami apa yang dialami oleh Najib. Segala usaha manusia tentu masih kalah dengan kehendak Allah, hanya Ibrahlah yang bisa mengobati ketidaksesuaian keinginan manusia.
“Ambillah ibrahnya Najib, semoga inilah yang terbaik dari Allah. Masalah Fitri Adzkia keponakanku, kamu tak usah khawatir. Kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya, namun Allah punya rencana lain, biar saya yang memberitahunya dan tak usah lagi menjadi beban pikiranmu.”
“Saya benar-benar minta maaf Ustadz,” Najib tertunduk serba tak enak, walau ketika mendengar nama Fitri yang sempat bertemu dengannya membuat hatinya masih berdebar-debar, ada benih cinta yang sudah mulai tumbuh di hatinya, namun dia harus segera menghapusnya, harus!
Langkah segera selanjutnya adalah menemui Ratna Aprilia beserta Ibunya. Najib membonceng ibunya ke rumah Ratna Aprilia yang rumahnya hanya terhalang sekitar satu kecamatan saja. Di jalan itu, Najib kembali membenahi niatnya untuk mengawali segalanya dengan kebersihan niat. Terbayang kembali kenapa ibunya demikian yakin akan keputusannya itu.
Setelah lama tak bertemu, Lia akhirnya menghubungi Fatimah lewat telepon. Basa-basi lama mereka lakukan. Hingga, Lia mengutarakan niatannya untuk menikahkan puterinya Ratna dengan putra Fatimah yaitu Najib. Fatimah agak kaget, karena anaknya sudah mendatangi ustadz Ghafur untuk dicarikan isteri. Lia juga mengutarakan bahwa anaknya juga setuju untuk dijodohkan.
Fatimah memberi jawaban untuk dirundingkan dengan anaknya, Najib. Namun belum sempat dirundingkan, kabar duka datang. Firman dan Lia kecelakan dan meninggal dunia, Fatimah merasa mengapa tiba-tiba sekali padahal mereka lama tak berhubungan, lalu berhubungan dan meminta perjodohan tapi kemudian kejadian maut menimpa.
Hingga malam itu, Fatimah bermimpi dan dalam mimpi itulah yang membuat Fatimah semakin yakin untuk menikahkan Najib dengan Ratna.
Dalam mimpinya, Fatimah bertemu dengan Lia dan seorang wanita. Lia tersenyum dan memeluknya, setelah itu menuntun tangan wanita yang bersamanya dan menyerahkannya kepada Fatimah lalu pergi menghilang. Esoknya, Fatimah datang ke rumah Lia yang jasadnya sudah dikuburkan dan bertemu dengan Ratna Aprilia, dari pertemuan itulah Fatimah yakin bahwa wanita yang dibawa Lia dalam mimpi adalah puterinya tersebut.
Najib mencoba meresapi kembali, dan inilah hidupnya, bukankah ridha Allah adalah segalanya?
Najib dan ibunya mengetuk pintu, seorang wanita keluar memakai jilbab pink, wajahnya polos dan bersih.
“Ibu Fatimah, kenapa tidak telepon dulu kalau mau kesini?” wajahnya tak lagi terlihat bersedih, wajah itu terlihat tegar setelah kematian kedua orangtuanya.
“Iya, ini perkenalkan putera Ibu, Najib Khaelani,” Fatimah Tersenyum memegang pundak anaknya.
Ratna merapatkan kedua tangannya di dada, “Ratna Aprilia,” wanita itu tersenyum ramah.
Najib membalasnya dengan merapatkan tangan di dadanya, “Najib Khaelani,” Najib pun tersenyum.
Pertemuan itu berlangsung lama, Ratna Aprilia masih menyelesaikan skripsi S1-nya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam. Dia anak tunggal dan tak memiliki saudara, sekarang dia sebatang kara. Najib sempat takjub dengan ketegaran dan keramahannya, walaupun perasaannya belum tumbuh getaran hati karena mungkin di hatinya masih terbayang Fitri yang pertama membuat hatinya terketuk.
“Najib, Ratna ini pintar memasak lho,” Fatimah bercanda.
“Biasa aja Bu, itu juga Umi yang ajari,” Ratna tampak malu.
“Ibu kamu yang cerita, dia bilang kamu selalu mencoba jika ada resep baru sehingga orangtuamu selalu makan di rumah.”
Pertemuan itu renyah, namun Najib sedikit berbicara. Namun ada satu hal yang Najib pikirkan dari Ratna, wanita itu begitu tabah, belum sebulan genap kedua orangtuanya meninggal. Sedangkan dia dulu, saat ayahnya meninggal sampai sedih berlarut-larut. Inikah awal mula hatinya mulai tersentuh akan wanita itu?
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian Lima, Ratna Aprilia"
Post a Comment