1. Gundah
Inilah sebuah cerita, selalu ada narasi. Narasi berbeda lagi dengan ending cerita, ending cerita kadang sesuai dengan kehendak, namun sangat mungkin jauh dari keinginan sehingga hasilnya tidak sesuai kemauan. Ah! Ini bukan soal cerita yang sering kita baca dan dengar, ini adalah masalah Najib yang sedang gundah gulana dengan salah satu bagian kisah hidupnya.
Semua berbalik, semua serasa berubah total, sangat berbeda dari bayangan.
Najib Khaelani, itulah namanya. Dia lulusan Sarjana Pendidikan, mengajar di sebuah sekolah swasta dengan gaji yang tidak seberapa, namun kesungguhannya menjadi seorang pendidik begitu tinggi. Selain menjadi guru, dia juga membuka tempat kursus di rumahnya sehingga penghasilannya tidak hanya dari satu wadah keranjang saja, selain itu, ternyata si Najib juga memiliki lima kolam ikan gurami di belakang rumahnya. Lengkaplah sudah, untuk hitungan bujangan berumur 24 tahun merupakan prestasi yang cukup memuaskan di sebuah desa.
Lagi-lagi, kita terlalu berpanjang lebar mengenai Najib. Kembali ke soal gundah gulana yang dialami oleh Najib. Betapa tidak bingungnya Najib. Ah! Hendak memulai darimana cerita ini agar kita segera tahu apa masalahnya. Pastilah banyak orang yang akan segera menebak, masalah Najib adalah masalah pernikahan.
Tidak sepenuhnya salah, namun tidak pula sepenuhnya benar. Inilah awal mulanya ceritanya, ya tentang pernikahan.
Malamnya tak lagi nyenyak untuk tidur, dihapusnya kegundahan dengan shalat malam dan diteruskan dengan dzikir Qur’an. Hatinya sudah mulai lega rasanya, mengadu kepada Allah, mencoba meyakinkan dirinya untuk melangkah kembali. Kegundahannya kini, lebih berat ketika ibunya sakit Asma’ dan harus di opname dua tahun lalu, lebih gundah lagi daripada ketika Ayahnya Umar meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan kerja sebagai kuli bangunan.
“Oh ya Rabbku, tunjukkan mana yang tepat untuk hambaMu ini,” hampir saja airmatanya tumpah lagi. Bingung dan bingung perasaan si Najib.
“Kenapa tiba-tiba semua jadi begini ya Allah? Allahulaa ilahaillahuwal hayyul Qayyum ,” Perasaan Najib serba teraduk-aduk. Enam bulan yang lalu tepatnya, namun Ibunya tiba-tiba menjadi aneh dan memaksakan kehendaknya.
Kenapa bisa begini jadinya? Kenapa bisa begini jadinya? Kenapa bisa begini jadinya? Najib mencoba memaksa otak dan hatinya, namun masih belum menemukan pertanyaannya. Lalu, dia kembali menyebut Allah di hati dan bibirnya. Kegelisahannya terasa benar-benar membuat hidupnya begitu sempit.
Malam yang sunyi, Heningnya angin, dan merdunya alam semesta seolah menenangkan hati Najib, “Najib jangan bimbang, Allah tak pernah meninggalkanmu.”
Namun, lagi-lagi Najib gelisah kembali setelah tenang sejenak. Gelisah sudah membuatnya terasa buntu pikiran. Kenapa dan kenapa yang terus muncul dalam benaknya. Gerangan apa yang membuatmu demikian gelisah memuncak wahai Najib?
Kadang, untuk menyelesaikan sebuah masalah, kita harus melihat dari awal permasalahan dan melihatnya secara bening agar mampu mengarungi hidup dalam ridha Ilahi. Begitu pula yang dilakukan Najib, melihat semuanya dari awal, tepatnya enam bulan yang lalu.
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian Satu"
Post a Comment