2. Belahan Rindu
“Ustadz, tolong saya dicarikan istri yang shalihah. Saya tahu, ehm..., saya memang seperti ini dan tidaklah shalih tapi saya yakin Allah pasti akan menentukan yang terbaik untuk hambaNya,” lega sudah rasanya, akhirnya Najib menyatakan niatnya kepada ustadz Ghofur.
Ustadz Ghafur tersenyum, “Najib, Subhanallah, saya senang mendengarnya. Ternyata kamu sudah siap sekarang. Tapi jika kamu mempercayakan saya untuk mencarikan saya hanya perantara dan memang Allah yang Maha Berkehandak, dan kita wajib berdoa dan berikhtiar. Namun, sebelum niat mulia ini kita mulai saya ingin bertanya kepada Najib,” wajahnya demikian tenang, Ghofur memiliki pesantren di dekat kampus dan memiliki asrama mahasiswa putra dan putri yang letaknya berbeda.
“Ber.., bertanya apa Ustadz?”
“Maaf saya hanya ingin memastikan. Apakah Najib sudah punya incaran untuk dijadikan isteri?”
Najib menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, “Maksudnya cem-ceman gitu Tadz?”
Ghafur mengangguk, “Iya, ini langkah ikhtiar pertama saya agar mudah dalam mencarikan bidadarimu,” Ghafur kembali tersenyum, terlihat bahwa dia sudah berpengalaman dalam menangani hal demikian. Pria dengan dua anak ini memang sudah bukan pemuda lagi, melainkan sudah malang melintang dalam urusan cinta beginian.
Najib mengerutkan dahinya, “Ka.., kalau cem-ceman...,” Najib berpikir keras, “Belum ada Tadz, makanya saya datang kemari agar dibantu mencarinya.”
“Baguslah kalau begitu, berarti kita bisa memulai langkah. Selanjutnya, kamu isi lembaran ini,” Ghafur memberikan secarik kertas kepada Najib yang diambilnya dari tumpukan kertas di belakang kursinya. Lembaran biodata diri untuk diisi.
Najib menerima kertas dan mengambil pena untuk diisi.
“Selain itu, ingatlah untuk selalu meminta petunjuk kepada Allah agar niat baik kita ini dijaga dari nafsu yang buruk dan kemaksiatan.”
“Amin, insyaallah Ustadz.”
Proses awal pencarian belahan rindu yang dicari Najib sudah dimulai, hari berganti hari Najib semakin mendekatkan diri kepada Tuhannya. Setiap malam tak pernah lewat shalat malam, ibadah lainnya semakin ia tingkatkan agar jalan yang hendak dijalaninya penuh keberkahan.
Dua minggu kemudian, Ustadz memberinya kabar yang demikian mengejutkan. Ustadz menawarinya untuk bertaaruf dengan seorang wanita yang tidak lain adalah keponakannya sendiri, yaitu anak dari kakaknya.
“Tapi perlu kamu ketahui Najib, Ayahnya sudah meninggal dunia setahun yang lalu. Wanita itu hanya tinggal punya Ibu seorang dan tidak memiliki saudara kandung. Ayahnya adalah seorang Ulama terkenal, dia adalah kakak saya sendiri. Mungkin ini yang diatur oleh Allah, seminggu sejak kamu datang, isteri almarhum kakak saya dan puterinya datang untuk meminta bantuan saya mencarikan calon suami.”
“Ta..., Tapi Ustadz, sungguh saya memang menginginkan istri yang shalihah. Tapi sekarang saya mulai berkaca, sungguh saya takut saya tak bisa jadi yang terbaik untuk keponakan ustadz Ghafur.” Najib menjadi ragu karena setelah membaca biodata wanita yang ingin dijodohkan dengannya adalah hafidz Quran dan juga seorang guru di sebuah sekolah Islam.
“Jawabanmu itu sudah membuatku semakin yakin bahwa Allah memang punya skenario yang baik. Tinggal kita selalu berikhtiar semoga semuanya lancar, jadi atau tidaknya itu kehendak Allah. Ingat, semua adalah kehendak Allah, kita hanya bisa berusaha.”
“I..., Iya Ustadz, saya paham.”
Begitulah awalnya, Ghafur sangat paham dan berpengalaman. Dia bahkan sudah sering membantu perjodohan, banyak yang berhasil dan banyak pula yang gagal sebelum menikah karena merasa tak cocok. Banyak faktor, termasuk, datang kepadanya dicarikan calon pasangan namun sebenarnya di hatinya sudah memiliki calon tanpa membersihkan hatinya terlebih dahulu. Ini akan menyulitkan karena pasti dia akan mencari kesamaan dengan idola maupun calon yang ada di hatinya sebelumnya.
Selain itu, banyak juga yang gagal karena ketidakcocokan dalam hal pekerjaan, dalam hal prinsip, dalam hal keuangan dan lain-lain.
Namun pada intinya, banyak yang berhasil ketika mereka sudah meniatkan dengan hati yang murni mengharapkan ridha Allah dan meniatkannya untuk beribadah kepadaNya, sehingga hal-hal yang berbeda selama tidak menodai ibadah kepada Allah bisa diatasi dengan mudah, insyaallah.
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian Dua"
Post a Comment