3. Persetujuan dan Penolakan
Najib dalam mencari calon isteri sudah mempersiapkan segalanya, dia berani melangkah karena sudah matang mempersiapkan segalanya. Termasuk yang utama adalah restu dari ibundanya tercinta.
“Ibu mendukung niatanmu itu Najib. Selain itu, ibu juga sudah ingin menimang cucu,” Fatimah tersenyum menatap putranya itu.
“Najib akan menemui Ustadz Ghafur ya Bu, semoga jalan yang sudah kita niatkan semua berjalan dengan sebaik-baiknya,” Najib tersenyum menatap ibunya.
“Nanti malam saja kamu kesana, rencana yang baik itu semakin cepat semakin bagus,” Fatimah lagi-lagi tersenyum bahagia.
“Insyaallah Bu,” Najib menangguk, Fatimah juga mengenal Ghafur, beliau adalah orang yang sering mengisi kajian di desa-desa, juga di kota, dia sering diundang mengisi kajian karena ceramahnya bagus tersusun indah dan mudah dipahami.
Begitulah, Najib memulainya dengan kelancaran proses. Dari Ibunya yang mendukung, Ustadz yang mengenalkan seorang calon isteri yang keponakannya sendiri, yang nasibnya sama dengannya yaitu tidak memiliki ayah lagi. Setiap hari terasa indah dirasakan Najib saat ini, seolah bintang dan bulan serta matahari muncul menghiasi setiap langkahnya.
Taaruf dengan calon isteri yang dicarikan Ghafur adalah seorang wanita yang cantik, pertemuan dilakukan di rumah Ustadz sendiri. Pertemuan pertama itu menciptakan aroma bunga yang menghiasi hati Najib, bagaimana tidak, wanita itu sangat anggun memakai jilbab hijau tua, serasi dengan bola matanya yang seolah hijau indah dan segar. Hati Najib semakin berbunga-bunga karena wanita itu langsung setuju, karena memang pertama yakin dengan calon yang disodorkan oleh pamannya sendiri.
Nama wanita itu adalah Fitri Adzkia, nama yang singkat namun memiliki banyak misteri dari senyumannya yang anggun. Bagi Najib, wanita itu tak ada cacat saat taaruf, hafidz Quran, guru di sebuah sekolah Islam, cocok dengan profesinya juga, selain itu wajahnya demikian cantik parasnya. Dia masih berpikir Allah demikian baik padanya, karena dirinya sangatlah jauh dari kata shalih. Berkali-kali hatinya berdzikir penuh kesyukuran.
Saat ditanya kapan rencana untuk melamar oleh Ghafur, gelagapan Najib hendak menjawabnya karena pertanyaan itu tiba-tiba.
“Aku tahu harus dipertimbangkan baik-baik, tapi niat yang baik sebaiknya disegerakan juga,” Demikian kata Ghafur.
“I..., iya Ustadz. Saya akan berdiskusi dengan Ibu saya dahulu, insyaallah kalau dari saya memang ingin segera secepatnya, amin.”
Fitri yang didamping isteri Ghafur di sebelahnya tampak memerah wajahya karena sangat malu mendengar pernikahannya ingin disegerakan.
Pertemuan malam itu berakhir sangat apik, sangat bahagia, dan penuh nuansa yang membuat hati semakin bersyukur kepada Sang Pencipta.
Namun, sekali lagi, inilah yang membuat malam itu sepulang Najib dari pertemuan itu tak bisa lagi untuk terpejam dengan tenang. Tiba-tiba, semuanya berubah total dan berbalik arah.
Jika kita pernah melihat indahnya pelangi ketika rintik hujan berakhir, maka perasaan Najib demikian ketika pelangi itu harus tiba-tiba terbakar matahari yang tiba-tiba muncul menyengat panas dan menghancurkan segalanya.
Inilah kehancuran hati Najib, Ibunya yang awalnya demikian mendukung tiba-tiba berubah seperti matahari yang tak lagi pagi melainkan terik saat tepat tengah hari, panas menyengat dan memiliki keyakinannya sendiri.
Malam itu, seolah matahari muncul dan teramat panas membuat hati Najib tak lagi tenang hingga hari-hari berikutnya.... Ibu tercintanya tiba-tiba menolak wanita yang telah ditawari ustadz Ghafur, tak lagi bisa ditawar dan tak bisa diajak negoisasi lagi.
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian Ketiga, Persetujuan dan Penolakan"
Post a Comment