4. Keyakinan Mentari
“Tapi Ibu...,” Tidak sampai hati Najib meneruskan kata-katanya, serba bingung bercampur aduk di kepalanya, kedua tangannya tanpa sadar mengusap keningnya mencoba menenangkan kekalutannya.
“Pokoknya kamu harus menikah dengan Ratna Aprilia, titik.” Ibu meninggalkan Najib yang masih duduk tak semangat di kursi tamu.
“Ya Rabb, ada apa ini? Ada apa ini?”
Getaran di hati Najib tak menentu, getarannya hanya fokus pada mempertanyakan kepada Allah, kenapa dan kenapa. Itu saja.
Ratna Aprilia, tiba-tiba nama itu muncul begitu saja dalam benak Najib, tanpa ada pendahuluan dan latar belakang. Najib hanya tahu bahwa Ratna Aprilia adalah anak satu-satunya dari pasangan Firman dan Lia, yang kedua orangtuanya seminggu yang lalu mengalami kecelakaan dan meninggal dunia ketika mereka mengendarai kendaraan bermotor dan bertabrakan dengan mobil truk.
Najib pernah bertemu dengan Ratna setidaknya sekali sewaktu masih kecil karena Lia adalah teman baik Ibunya ketika sama-sama di pesantren sewaktu sama-sama belum menikah. Najib hanya menebak apakah dahulu sewaktu masih di pesantren ibunya mengikat janji dengan almarhum ibu Ratna untuk nantinya sama-sama menjodohkan anak mereka? Kenapa seperti Siti Nurbaya? Padahal dirinya adalah lelaki.
Tapi, jika demikian dijodohkan semenjak dahulu, kenapa tidak dari sebelumnya ketika Najib belum menghubungi Ustadz Ghafur? Sehingga tidak membuatnya semakin gelisah. Pikiran Najib seolah buntu, tak ada lagi yang bisa dipikirkannya untuk saat ini, karena itulah tak ada jalan lagi selain mengambil air wudhu dan menghadap Tuhannya.
Dalam dzikirnya, lagi-lagi Najib selalu dan selalu bertanya kepada Rabbnya, “Ya Allah, kenapa seperti ini? Apa yang Kau rencanakan? Kenapa hamba tak bisa menangkap skenario yang kau siapkan?”
Airmatanya tak bisa lagi ditahan, banjir hingga membasahi sajadahnya. Pikirannya benar-benar buntu, dia selesaikan dzikirnya dan sujud di sajadah, hanya Allah yang ada di hatinya saat ini.
“Berilah yang terbaik, tunjukkan yang terbaik untuk hamba-Mu. Ya Allah ampuni hamba yang hina penuh dosa, tak sesumbar hamba-Mu ini mengharap pendamping yang indah sedangkan hamba sehina ini. Ampuni hamba ya Allah.”
Tanpa disadari, seseorang melangkah memasuki kamar Najib dan duduk di sebelahnya yang masih tersujud di sajadah dengan terisak. Dia adalah Fatimah, Ibunya. Wanita itu memeluk anaknya, airmatanya ikut terburai.
“Maafkan Ibumu Nak, Maafkan Ibu tak seharusnya ibu melakukan ini.”
Isak tangis mereka bersamaan, hingga keadaan hening.
“Begitulah ceritanya Nak,” Fatimah menceritakan segalanya, airmatanya terus turun. Najib mulai memahami kenapa mentarinya tiba-tiba menolak Fitri Adzkia dan memilih untuk memilih Ratna Aprilia. Kini, Najib bisa mengerti, kedua tangannya meraih wajah ibunya, menghapus airmata Ibunya yang sedari tadi menetes.
“Najib mengerti Bu,” Najib memeluk ibunya, ada kehangatan yang mengobati dukanya setiap saat semenjak kecil. Ibu yang tak pernah menuntut apapun darinya, selalu memberinya yang terbaik, berkorban segalanya untuknya, dan kini hanya berharap untuk mengabulkan satu permintaannya semata, ya, menikah dengan Ratna Aprilia.
“Najib insyaallah akan nurut sama Ibu, semoga Allah memberi yang terbaik, amin.”
Najib mulai meyakinkan hatinya, menatanya agar tak berprasangka buruk kepada Rabb-nya. Kini, yang menjadi PR besarnya adalah bagaimana caranya mengatakan kepada Ustadz Ghafur dalam membatalkan perjodohan itu, dan yang tak kalah membuat pikirannya masih gelisah adalah bagaimana perasaan Fitri Adzkia ketika mendengar pembatalan tersebut, apakah dia akan patah hati? Lalu..., lalu...
Astaghfirullahal ‘adhim, Najib menepis pikiran buruknya.. Fitri Adzkia adalah wanita yang shalihah, tentu dia akan lebih tabah daripada dirinya, lagi-lagi pikiran Najib mulai tenang karena dia tahu bahwa dirinya adalah hamba yang penuh dosa dan tak bisa dibandingkan dengan Fitri yang hafidz Quran.
Allahulaa ilahaillahuwal hayyul qayyum
“Semoga inilah yang terbaik dari Allah, Ibu akan selalu berdoa tanpa henti untukmu Najib.”
Dan kata-kata itulah yang membuat hati Najib kini tersenyum dan siap melangkah kembali meneruskan hidupnya. Kini dia siap, seperti matahari yang senantiasa siap bersinar meskipun ada manusia yang tak suka dengan teriknya.
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian Empat, Keyakinan Mentari"
Post a Comment