Gerbang.Net. Indonesia kini mulai tahun 2016 memasuki MEA, Masyarakat Ekonomi Asia dimana banyak pengusaha luar negeri akan bebas masuk di Indonesia untuk menanamkan investasi dalam bidang apapun. Lalu, apa salahnya jika terjadi demikian? Jika anda bertanya demikian sebaiknya anda tahu bahwa dalam system ini, kapitalisme sedang mengincar Indonesia.
Jika kita masuk ekonomi global, alias semua bersaing, maka yang kaya akan semakin melebarkan sayap investasi dan memperbesar keuntungannya. Sedangkan, anda tahu apa yang terjadi dengan masyarakat yang tingkat ekonominya menengah ke bawah? Mereka akan terhimpit dan perebutkan pekerjaan membuat beberapa orang atau sebagian besar orang tak memiliki pekerjaan. Akhirnya…, jarak ekonomi akan jauh dan mereka menjadi miskin semiskin-miskinnya.
Inilah yang terjadi ke depan, jika Pemerintah Indonesia tak bisa mengatasi masalah kesenjangan ekonomi maka rakyat akan semakin menderita. Ditambah, hutang Negara yang kini semakin membengkak.
Peneliti Jepang Masako Kuranishi dari Universitas Tsurumi dan Universitas Seigakuin Jepang, Masako Kuranishi, mengingatkan Indonesia agar sangat hati-hati terhadap gerakan China di Asia terutama di Indonesia.
Jangan sampai salah langkah Indonesia kalau tak mau negeri Nusantara ini berantakan nantinya gara-gara China.
“China punya rencana atau konsep besar sejak Oktober 2013 terhadap Asia, yaitu Maritime Silk Road atau sering dijuluki One Belt One Road, yang dilemparkan ide ini oleh Xi Jinping. Secara kasar bisa dikatakan munculnya hegemoni China terhadap negara-negara di Asia,” ujarnya.
Di Indonesia, menurutnya dimulai dari penguasaan Shinkansen, “Bukan hanya soal Shinkansen, tetapi daerah yang dilewati dan sekitarnya akan dan harus dikuasai pihak China walaupun perusahaan patungan 60% Indonesia dan 40% China. Tapi China yakin Indonesia akan kesusahan bayar sehingga penguasaan mayoritas perusahaan nanti akan dilakukan China. Demikian pula tenaga kerja yang dikerahkan semua akan diturunkan dari China. Tenaga kerja Indonesia hanya sedikit dan yang tak penting yang terlibat dalam proyek kereta api cepat itu itu,” katanya.
Mengapa demikian? Kalau China sudah menguasai jalur Shinkansen dan sekitarnya akan mudah bagi mereka untuk semakin merealisasi konsep One Belt One Road tersebut yang akan berlanjut ke negera Asia lainnya.
Sementara Indonesia akan kacau karena “kekuasaan” uang China di jalur tersebut, akan membuat resah masyarakat sekitar yang mungkin dipaksa mengungsi dengan dalih demi keamanan jalur cepat kereta api.
Masyarakat akan mengeluh dan jadi sasaran juga adalah keturunan China di Indonesia dan kembali huru hara besar Anti China akan muncul lagi di Indonesia. Masalah SARA (Suku Agama Ras Antar Golongan) akan kembali meruncing di Indonesia.
Itu baru satu hal, tambahnya. Hal lain adalah pinjaman dari AIIB dan atau langsung dari Bank Perkembangan China (CDB) miliaran dolar AS yang membuat Kuranishi bingung.
“Kok Indonesia mau menerima pinjaman besar sekali dari China dengan bunga besar sampai 2% setahun ya? Padahal Jepang bisa memberikan pinjaman 0,1% per tahun. Benar-benar tidak mengerti,” katanya.
Artinya apa? Menurutnya, China sengaja membuat berbagai kemanisan saat ini kepada Indonesia, karena setelah pinjam, China sadar Indonesia mungkin akan mengalami kesulitan pengembalian uang hutang sehingga jadi terikat semakin kuat kepada China, “Dari sanalah China akan semakin menguasai Indonesia,” ujarnya.
Jika demikian, tentu saja orang yang berhutang selamanya akan tergantung dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, tidak lagi memiliki harga diri. Selain itu, konflik Laut Cina Selatan yang dulu masih kuat mengakar akan bisa diselesaikan dengan mudah oleh Cina karena Indonesia telah banyak dikuasai dari semua ruang dan BUMNnya.
Not Comments Yet "Cara Cina Hendak Menguasai Indonesia, Ini Ambillah Uang Hutang Untuk Kemajuan Indonesia"
Post a Comment