Firman masih saja menyeruput ice cream-nya, istirahat hampir selesai. Firman masih asyik menyeruput es-nya, dia sudah menghabiskan satu dan kini satunya tinggal setengah. Firman sering membeli es krim setiap istirahat dari pak Andi yang selalu berdagang di depan gerbang.
Bel masuk berbunyi, Firman melumat habis sisa es-nya. Dia berjalan menuju kelasnya, saat itulah dia berpapasan dengan Aldi yang merapikan wadah dagangannya yang terbuat dari anyaman bambu.
“Sekolah kok sambil jualan,” Firman menyindir teman sekelasnya itu sambil memiringkan mulutnya tanda menghina.
Aldi yang disindir hanya tersenyum, dia menutup wadah dagangannya yang sudah habis dan memasukkannya dalam plastik, kemudian dia mengikuti Firman untuk masuk ke dalam kelas. Dia tak malu berjualan di sekolah saat istirahat, berdagang pisang coklat sambil memegang buku pelajaran.
Di dalam kelas 4 SD itu, kini pelajaran Matematika. Bu Sri menerangkan tentang hitung – hitungan kemudian membuat contoh soal di papan tulis, “Hayo, siapa yang bisa mengerjakan maju ke depan,” bu Sri memegang spidol itu sambil tersenyum.
Tidak ada yang berani maju, karena mereka masih mengerjakan di bukunya masing – masing. Namun, tiba-tiba sebuah telunjuk terlihat terangkat, telunjuk milik Aldi, “Saya ingin mencobanya Bu,”
“Oya, Aldi, silakan maju,” bu Sri mempersilakannya.
Aldi maju dan mengerjakan soal itu dengan baik, dan jawabannya dibenarkan Bu guru. Firman semakin jengkel saja dalam hatinya, coret - coretannya saja di buku belum selesai dan Aldi sudah maju mengerjakannya dan selesai. Selalu begitu, Firman memang agak tidak suka pada Aldi yang pintar di kelas, selain itu sekolah sambil jualan piscok.
* * *
Saat pulang sekolah, hujan tiba-tiba turun begitu deras. Firman di tengah jalan kehujanan dan berteduh di bawah pohon pisang di pinggir jalan. Tetes – tetes hujan masih mengenainya, dia merasa kedinginan.
“Ayo pulang bersamaku Firman?” tiba – tiba Aldi menawarinya sambil memegang payung yang selalu dibawa di dalam tasnya.
“Ayo, nanti kamu sakit kalau disini terus. Aku akan mengantarmu sampai rumahmu,” pinta Aldi.
“Aku tidak mau sepayung bersamamu! Kalau mau, aku pinjam saja payungmu, besok aku kembalikan padamu,” Firman bersedekap menahan dinginnya hujan, bajunya telah basah kuyup.
Aldi tampak terdiam sejenak, “Baiklah, bawalah payung ini dan cepatlah pulang nanti kamu bisa sakit,” Aldi menyerahkan payung itu yang segera diambil Firman dan segera memakainya dan pulang tanpa mengucapkan terima kasih.
Aldi kini terkena rintik hujan walau sudah berteduh di bawah pohon, namun dia memiliki cara. Dia mematahkan daun pisang dan memakainya untuk dijadikan payung dan dia bisa pulang ke rumahnya.
Esok harinya, Firman tak masuk sekolah dan ada surat keterangan bahwa dia sakit. Maka, sepulang sekolah Aldi datang seorang diri karena teman – temannya tak ada yang mau diajak menjenguk Firman karena Firman orangnya sombong dan suka mengejek. Namun, Aldi tetap datang membawa roti dan pisang coklat yang disimpannya.
Aldi bertemu dengan Ibunya Firman dan dipersilakan masuk ke kamar Firman, rumah itu besar dan indah. Firman sedang tiduran, yang terlihat lemas dan pucat wajahnya.
“Firman, ini kubawakan roti dan pisang coklat, cepat sembuh ya,” Aldi memegang tangan Firman.
“Kamu datang sendiri Aldi? Padahal yang lain tidak mau datang kesini. Apa kamu hanya ingin mengambil payungmu yang kubawa kemarin?”
“Tidak, aku datang untuk menghiburmu agar cepat sembuh.”
“Terima kasih ya Aldi, selama ini aku sudah jahat padamu,” mereka saling tersenyum.
* * *
Hari ini ujian sekolah dimulai. Suasana kelas tampak tenang. Firman yang duduk di depan Aldi tampak tenang mengerjakan soal, dia sudah sering belajar bersama dengan Aldi. Saat itulah, Lina yang duduk di samping kirinya berteriak keras, “Ulaaar!” sambil menunjukkan jari telunjukkan kearah Firman.
Benar, di bawah meja Firman ada seekor ular. Para murid melihat ular itu dan berhamburan keluar. Mungkin karena kaget, ular itu segera melilit kedua kaki Firman. Firman tak berani bergerak dia menggigil ketakutan, badannya gemetaran.
Aldi tak lari keluar, dia pelan-pelan mendekati kaki Firman, “Kamu diam dulu Fir, aku akan berusaha mengusir ular itu,” tangan Aldi mencari celah agar dapat mengambil ular itu.
“Hati-hati Aldi.”
Aldi mendapatkan tubuh ular itu dan menariknya kuat, namun karena tangannya kecil dan tidak terlalu kuat ular itu masih sempat mematuk pergelangan tangan Aldi sebelum terhempas menabrak tembok.
“Kamu tidak apa-apa kan?” Aldi memegang pundak Firman, namun belum sempat terjawab matanya berkunang-kunang dan pingsan.
Firman segera berteriak minta tolong dan seorang guru membopong tubuh Aldi untuk dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Aldi segera ditangani, Firman dan gurunya segera datang ke rumah Aldi memberitahukan keadaan Aldi kepada keluarganya.
Barulah Firman tahu, keadaan rumah Aldi. Rumahnya sangat kecil dan terbuat dari bambu. Ibunya Aldi sedang sakit juga, Ibunya Aldi juga seorang buruh yang bekerja mencuci baju-baju tetangga-tetangganya. Ibunya Aldi juga setiap hari menggoreng Pisang Coklat, selain dijual di Sekolah, Aldi juga biasanya menjualnya berkeliling dan menyisir jalan membawa dagangannya. Ayahnya Aldi sudah meninggal dunia tiga tahun yang lalu.
Para guru iba, dan ikut membawa Ibunya Aldi ke Rumah Sakit. Semua siswa dan guru patungan untuk mengobati Aldi dan Ibunya di Rumah Sakit. Ular yang mematuk Aldi juga tidak berbahaya hanya saja menimbulkan efek kaget dan bisanya ringan. Seminggu kemudian Aldi sudah sadar dan bisa kembali sekolah.
“Pisang Coklat! Pisang Coklat!” Aldi berkeliling menawarkan dagangannya sepulang sekolah kepada orang-orang yang dia lewati.
“Boleh kubantu?” Firman yang tubuhnya agak gemuk tiba-tiba muncul.
“Kamu tidak malu Fir?”
“Tidaklah, kita kan teman,” Firman memegang sisi wadah pisang coklat dan Aldi di satu sisinya, mereka membawanya bersama sehingga menjadi lebih ringan.
“Firman, kamu tahu, kamu adalah teman dari langit untukku. Selama ini, tidak ada orang yang mau bersamaku yang miskin ini.”
Firman tersenyum menatap langit, hatinya berkata, ‘Kamulah teman dari langit untukku Aldi, kau adalah anak yang baik dan mengubahku agar aku tidak sombong.’
Mereka terus berjalan menuju arah matahari yang hendak tenggelam di ujung barat.
Not Comments Yet "Teman dari Langit"
Post a Comment