Masih ada banyak pertanyaan dari para kaum Muslimin, apakah shalat mereka khusyuk? dan pertanyaan bagaimana shalat khusyuk tersebut? Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (kemaksiatan), jadi kalau shalat kita masih belum bisa mencegah kita dari berbuat dosa, maka shalat kita belum khusyuk.
Nah, bagaimana agar shalat kita khusyuk?
Allah swt berfirman, “Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS. Al-Baqarah : 45).
Dalam ayat di atas, sungguh suatu kesusahan shalat seseorang yang tidak meniatkan karena Allah swt., hal ini karena shalatnya akan terasa berat dan menjadi beban yang mengharuskannya bergerak dari gerakan satu ke gerakan yang lainnya.
Shalat adalah ibadah keikhlasan, yang di dalamnya kita harus mengutamakan niat, karena niat adalah awal setiap ibadah, apalagi untuk ibadah shalat. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “Sejelek-jeleknya manusia adalah yang mencuri dalam shalatnya.” Yaitu, tidak menyempurnakan shalatnya, baik dalam hal niat maupun semua gerakan yang ada di dalam shalatnya.
Orang yang tidak meniatkan shalat dengan baik, tentu berdirinya saat shalat terlihat malas dan tidak berkonsentrasi kepada Allah, bahkan membayangkan hal-hal duniawi yang akan merusak shalatnya. Namun, sebagai manusia tentu pikiran-pikiran yang mengganggu shalat akan muncul, karena itu merupakan gangguan dari setan, maka ketika bayangan dunia nampak ketika shalat, kita harus segera mengantikannya dengan konsentrasi lagi pada shalat kita.
Khusyuk itu juga ketika shalat, kita ingat sudah berapa rekaat dan sedang berada pada rekaat berapa saat shalat itu. Itu adalah khusyuk yang masih awal, karena ketika kita lupa pada rekaat shalat, berarti pikiran kita sedang tidak berkonsentrasi.
Di dalam shalat, Nabi saw. menganggapnya sebagai hiburan dan istirahat. Rasulullah saw. bersabda, “Shalat telah dijadikan oleh Allah sebagai yang terindah dalam pandangan mataku (sesuatu yang sangat aku senangi).” (HR. An-Nasa’i).
Jadi, shalat yang khusyuk itu adalah mencintai shalat itu sendiri sebagai sebuah kenikmatan, dan bukan sebagai beban. Ketika adzan dikumandangkan, perasaan rindu membuncah karena hendak bertemu Sang Kekasih, yaitu Allah swt., dari sinilah kekhusyukkan itu dimulai. Berbeda dengan orang yang shalat main-main, ketika adzan dikumandangkan, mungkin perasaannya adalah seperti beban, dan sebentar-sebentar mengganggu pikiran dan kerjaannya. Naudzubillah min dzalik.
Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun : 1-2).
Sesungguhnya, ketika ditimpa persoalan dan masalah seseorang hendaknya shalat, karena dalam shalat terdapat ketenangan yang dilimpahkan dari Allah swt. kepada hamba-hambaNya yang berserah diri.
Shalat adalah kenikmatan, shalat adalah kesenangan, shalat adalah obat pelipur lara, dan shalat adalah konsentrasi kepada Allah, karena kita sedang berkomunikasi (saling bicara), bukankah kita adalah hamba-Nya, lalu kenapa shalat adalah sebuah beban?
Semoga kita dapat menikmati shalat kita, konsentrasi dan fokus kepada Allah, agar jalan hidup kita terang hingga ke akhirat dan bertemu dengan-Nya. Amin ya Rabbal’alamin.
Not Comments Yet "Bagaimana Mengupayakan Agar Shalat Menjadi Khusyuk?"
Post a Comment