Hari-hari ini, kita dihidangkan berita dari para pemuka agama, tentang
ucapan natal bagi seorang muslim. Ada yang menantang yang lain tentang ucapan natal yang katanya haram, lalu dia menantang mencari dalilnya di Quran dan Sunnah. Ada juga yang malah tertawa karena baru tahu kalau selamat natal haram diucapkan seorang muslim, karena di dunia keilmuwannya boleh-boleh saja karena itu termasuk solidaritas dalam Islam.
Jika kita tilik dari bahasa, sesungguhnya bahasa adalah kata-kata dan perwakilan dari sikap seseorang. Baiknya perkataan seseorang mencerminkan kepribadian seseorang tersebut. Coba kita lihat, jika ada seseorang yang berkata jorok, tentu batin kita menganggapnya sebagai orang yang jelek.
Tentu, ini penilaian manusia. Karena memang manusia menilai dari penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Nah, kalau Tuhan tentu menilainya dengan keseluruhan, karena Tuhan Maha Mengetahui. Jika kita mendengar orang selalu berkata baik dan sopan, tentu penilaian kita perilaku orang tersebut juga baik. Karena itulah penilaian manusia.
Baiklah, kembali ke permasalahan ucapan natal bagi seorang muslim. Saya menulis bagi seorang muslim, kalau yang lainnya tentu beda. Saya ambil sebuah ibarat, kalau ada seorang teman anda datang, saat anda tengah bahagia karena sesuatu dan dia mengucapkan selamat, apakah berarti teman anda juga ikut merasakan bahagia? Jawabannya iya bukan? Kecuali orang yang benci pada anda, dan mengucapkan hanya untuk menyenangkan anda tetapi hatinya benci.
Contoh yang lain, ada yang mengucapkan selamat tahun baru, tentu dia juga setuju bahwa hari itu tahun baru. Contoh yang lain lagi, jika ada perayaan 17 agustus, hari kemerdekaan, bendera dimana-mana, lalu kita upacara bendera, apakah berarti kita setuju bahwa hari itu adalah hari kemerdekaan Indonesia? Tentu, jawabannya juga setuju, kecuali orang tersebut tidak suka dengan kemerdekaan Indonesia dan ucapannya hanya dibibir saja.
Nah, daripada bohong kepada umat Nasrani, mengapa kita tidak bertemu dengannya dan berbaik tindakan sebagai bentuk toleransi, tidak mengganggunya dalam ibadahnya, saling menolong dalam kehidupan. Tetapi, tidak mengucapkan selamat natal kepadanya, itu lebih jujur daripada mengucapinya selamat natal tapi membohonginya.
Kenapa membohonginya?
Ini masalahnya, jika mengucapkan selamat natal maka seorang muslim setuju bahwa Nabi Isa as adalah seorang anak Tuhan dan disalib, kemudian bangkit menjadi Yesus. Nah, ini termasuk kekufuran bagi seorang Muslim, ingat hanya seorang muslim. Nah, masalah pemahaman tentu muslim dan nasrani berbeda bukan? Maka tidak perlu dipaksakan.
Lho, bukannya itu hanyalah kata-kata saja? Untuk menyenangkan seorang teman yang nasrani?
Baiklah, menyenangkan teman, misal seorang muslim, tidak hanya dengan mengucapkan natal. Coba deh, sesekali, misal yang punya tetangga non muslim saat punya rezeki lebih, kita antar makanan yang enak kepada mereka. Apakah itu menyenangkannya? Nah, apakah kita sudah pernah melakukannya dan membantunya mengerjakan suatu kesulitannya misalnya?
Kembali lagi, hanya masalah kata-kata. Nah, sekarang kata-kata adalah kuncinya. Jika ada seorang non muslim ingin masuk Islam bukankah kuncinya hanya ‘kata-kata’ syahadat? Apakah kata-kata tidak penting. Kita tidak boleh mamaksa seorang non muslim berkata ‘syahadat’ karena itu berarti bisa pindah agama bukan?
Masih tentang kata-kata, kita ingat keluarga Yasir yang disiksa, Ammar ra., disiksa dan dipaksa memuji Latta dan Uzza, karena merasa tak kuat akhirnya Ammar mengatakan 'Latta, Uzza'. Setelah bertemu Nabi saw., Ammar ketakutan karena ucapannya itu, namun Allah menurunkan firmanNya.
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ{105} مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَـكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ{106}
“Hanyalah mereka yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, yang mengada-adakan dusta; dan merekalah orang-orang yang berdusta. Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. (An Nahl: 105-106)
Ammar ra., diampuni karena terpaksa. Nah, kita yang tak terpaksa juga harus menjaga kata-kata kita. kata-kata Ammar ra, tentang tuhan orang kafir yaitu latta dan uzza, sama juga dengan kata-kata ya Yesus-ya Yesus bagi seorang muslim tentu tidak diperbolehkan.
Jadi, kita (muslim) haram mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani namun kita juga haram mengganggunya dalam beribadah. Toleransi tak melulu mengucapkan selamat natal, dan persaudaraan tak hanya melalui kata-kata tapi juga bisa dengan tindakan dan perbuatan yang mencerminkan sikap saling tolong-menolong dan saling menjaga.
Wallahua’lam bishawab.
(ideabadar/Gerbang)
Not Comments Yet "KISRUH UCAPAN NATAL BAGI MUSLIM"
Post a Comment