Di ranah dunia hiburan, nama El-Manik tentu tidak asing lagi bagi para penikmat film di Indonesia. El-Manik adalah artis yang telah malang melintang di dunia perfilman.
El Manik adalah salah satu mualaf yang kini tengah terus-menerus belajar untuk mendekatkan diri dengan Allah. Film-film yang dibintangi sekarang semuanya bernuansa Islam dan jauh dari syahwat dan perebutan harta benda seperti sinetron-sinetron pada umumnya.
Saat perfilm-an sedang ramai membuat film-film syahwat dan film-film penuh kemusyrikan, El-Manik seolah ingin mengatakan bahwa seharusnya film-film itu harus mendidik karena kita semuanya di Indonesia adalah agama yang beragama dan mayoritas Muslim.
Aktor senior, El Manik mengaku mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam karena bermain dalam film garapan Asrul Sani, “Titipan Serambut dibelah Tujuh” tayang di bioskop tahun 1982-an.
Asrul Sani, tokoh Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU yang menjadi penulis skenario film tersebut memang menempatkan El Manik sebagai pemeran utama. El Manik berperan sebagai seorang ustadz muda yang dalam salah satu adegan harus membaca ayat kursi. El Manik yang saat itu masih non muslim mengaku butuh waktu dua minggu untuk bisa membaca dan menghafalkan ayat kursi tersebut. “Adegan tersebut baru final setelah 12 kali diulang”, urai El Manik menceritakan pengalamannya di depan audiens Taman Ismail Marzuki (TIM) sesudah pemutaran ulang film tersebut di TIM pada 19 Februari 2007 dalam rangkaian acara Bulan Film Nasional 2007
Asrul Sani, tokoh Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU yang menjadi penulis skenario film tersebut memang menempatkan El Manik sebagai pemeran utama. El Manik berperan sebagai seorang ustadz muda yang dalam salah satu adegan harus membaca ayat kursi. El Manik yang saat itu masih non muslim mengaku butuh waktu dua minggu untuk bisa membaca dan menghafalkan ayat kursi tersebut. “Adegan tersebut baru final setelah 12 kali diulang”, urai El Manik menceritakan pengalamannya di depan audiens Taman Ismail Marzuki (TIM) sesudah pemutaran ulang film tersebut di TIM pada 19 Februari 2007 dalam rangkaian acara Bulan Film Nasional 2007
Inti cerita dalam film tersebut menurut El Manik masih sangat relevan dengan situasi sekarang dimana para ulama yang dekat dengan umaro (pejabat atau orang berkuasa) sangat rentan menjadi ulama hipokrit (munafik).
El Manik mengaku rindu dengan suasana syuting pada masa itu yang masih mengandalkan peralatan sederhana. Untuk membuat kabut saja, para kru film harus membuatnya dari membakar timbunan sampah dengan solar.
Sebagai aktor senior, ia mengaku prihatin dengan kondisi perfilman Indonesia saat ini yang didominasi tayangan sinetron yang hanya mengejar rating dan dibuat terburu-buru karena dikejar tenggat tayang. Untuk bisa mewujudkan idealisme, menurut El Manik para aktor muda hanya bisa menuangkannya lewat film. “Omong kosong, idealisme bisa diwujudkan lewat sinetron”, tandas El Manik. (Disadur dari kapanlagi.com)
Dan inilah, wawancara dengan El-Manik, yang pada intinya mengajak umat Islam untuk sadar dalam beragama sehingga ibadah yang dilakukan bisa benar dan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw.
Bagaimana cerita Bapak masuk Islam ?
Saya sadar Tuhan itu ada. Tapi saya bingung karena banyak agama yg ditawarkan. Saya sebenarnya Kristen, tapi saya tidak sreg dengan beberapa ajarannya. Beberapa tahun lalu saya tertarik pada Islam. Ketika itu saya takut mati. Istri saya Islam dan dia menjalankannya dengan baik. Anak kedua saya, perempuan, juga Islam. Anak lelaki saya tadinya Kristen taat lalu masuk Islam. Lha saya ? jika mati, mati saya tidak jelas.
Saya bingung, Saya berdoa sambil menangis. Tolong pilihkan agama yg baik buat saya ya Tuhan,kalau bisa jangan Islam (tersenyum) Islamkan berat. Lagi enak-enak tidur mesti bangun, sholat. Lima kali lagi sholatnya. Belum lagi puasa. Saya jam sebelas sudah gemeter kalau belum makan. Lagi pula, banyak yg tidak saya suka dengan Islam. Kok umat Islam banyak yg jadi pengemis? Banyak yg minta-minta dijalanan untuk pembangunan mesjid? Begitulah dulu saya melihat Islam.
Alhamdulillah, saya punya sahabat. Dia tidak pernah ngomong, Manik ayo masuk Islam, kalau tidak kamu masuk neraka. Nggak. Dia cuma menunjukkan dia muslim yg baik. Dia puasa, dia sholat. Satu hari dia ngajak saya buka puasa. Saya tanya dia apa enaknya puasa. Dia tidak menjelaskan pake dalil agama. Dia pake pendekatan kesehatan. Saat itu kelesterol saya tinggi. Dia suruh saya puasa. Saya nolak. Mana kuat? Jam sebelas saja udah gemeteran. Trus dia mengusulkan puasa senin - kamis saja. Akhirnya saya coba. Istri saya heran. Eh, ternyata saya kuat. Pelan-pelan saya tertarik. Saya sering dengar ceramah di TV, radio, sering baca buku. Akhirnya masuk Islam.
Selama menjadi muslim, ada tidak ajaran Islam yg tidak masuk akal ?
Justru banyak ajaran Islam yg masuk akal saya. Berat memang, tapi benar. Banyak ajaran Islam yg menyentuh perasaan saya. Bayangkan, senyum saja berpahala. Saya banyak berubah setelah berislam. Saya berhenti merokok, minum dan berjudi. Teman saya heran.
Perbedaan paling dasar dalam diri Bapak sejak masuk Islam ?
Banyak. Saya mencoba menjalankan segala perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Sebelum ini saya pelit pada orang. Kalau ada orang susah, saya bilang 'Usaha dong'. Sekarang saya sadar rezeki itu yg saya peroleh tidak mutlak milik saya. Ada hak orang berupa Zakat. Sekarang kalau bisa melakukan sesuatu buat orang, saya merasakan kenikmatan.
Bagaimana Bapak menjaga keislaman Bapak ?
Itu yg paling berat. Saya berprinsip mengalahkan hawa nafsu itu kemenangan terbesar. Saya mulai dari diri sendiri dan keluarga. Kalau anak perempuan saya malas sholat, saya bilang ke dia,'dulu kamu nangis-nangis minta saya
masuk Islam. Kamu sholatnya malas. Ayo, pergi sholat sana'. Saya boleh nyiram dengan air kalau mereka malas sholat.
Menurut Bapak, apa yg harus diubah dari umat Islam ?
Saya mungkin agak pedes dalam hal ini, saya mohon maaf. Saya melihat banyak umat Islam yg perlu di Islamkan lagi. Maksud saya bukan bersyahadat lagi, tapi berislamlah dengan memakai ilmu dan nalar, jangan hanya ikut-ikutan atau karena terlanjur Islam. Misalnya saya sering sholat Jum'at diluar. Banyak orang tidak mengerti tata tertib sholat. Mau rapat saja segan padahal rapat dan lurusnya shaf adalah syarat mutlak diterimanya sholat. Disuruh mengisi shaf didepan susah sekali. Shaf pertama itukan pahalanya paling besar. Kalau dia mengerti dan tahu pasti akan berlomba-lomba. Ini karena mereka berislam tanpa ilmu. Kadang saya pengen sekali berceramah, tapi saya tahu kemampuan saya terbatas dan sekarang belum bisa.
Not Comments Yet "El Manik; Beragama dengan Kesadaran"
Post a Comment