Anda bisa membayangkan, bagaimana jika harga bensin yang sering anda gunakan dijual dengan harga Rp 40.000? Kemungkinan besar akan banyak motor yang tidak jalan karena kesulitan uang untuk membeli bensin. Namun, mudik di jalur Pantura memang menggila, karena begitu rapatnya kendaraan serta sulitnya mencari bensin karena antrean panjang di SPBU maka para pengecer mencari peluang dengan menjual bensin eceran seharga Rp 40.000.
Kemacetan di sepanjang ruas Tol Pejagan-Brebes Timur saat arus mudik Lebaran berlangsung menyebabkan konsumsi BBM di Brebes naik hingga 250 persen.
Ketika pengecer menaikkan harga, dalam hukum Islam tentu boleh-boleh saja, namun kenaikan harga yang berlebihan jelas dilarang, karena ada unsur kedzaliman dan memanfaatkan keuntungan semata. Kasus seperti ini, tidak beda jauh dengan penimbunan barang dan menjualnya saat harga mahal.
Para pengecer berdalih menjual harga hingga Rp 40.000 dikarenakan akan sulit ketika dia mencari barangnya. Alasan yang lain mengatakan masih murah, karena ada yang menjual hingga Rp 50.000. Meskipun harga melambung tinggi hingga berlipat, namun rata-rata para pengecer mengatakan bahwa bensinnya tetap laris. Tanya kenapa? Karena jika butuh, orang terpaksa membeli itulah yang disebut perdagangan dzalim.
Jika anda tidak bisa makan tiga hari, lalu ada makanan dijual dengan harga tinggi pun akan tetap dibeli kenapa? Karena saking butuhnya, meskipun hal itu tidak wajar dengan harganya.
Bukan tanpa komentar, para pengguna jalan tetap saja mengeluhkan harga yang di eceran, karena d SPBU tidak memadai dan antrean yang tidak habis-habisnya. Ada pula seorang pemudik, harus mendorong motornya karena kehabisan bensin, lalu ditawari penjual bensin dengan harga Rp 50.000 namun dia menolak. Akhirnya, si penjual menurunkan harga Rp 35.000, akhirnya dia pun membeli karena dia sangat butuh.
SPBU di sepanjang Jalur Pantura banyak yang kosong karena kehabisan, kalaupun masih ada antreannya sangat panjang. Dalam hal ini, pemerintah harus ikut andil dengan semua jajarannya agar hal seperti ini tidak terulang lagi, bagaimana caranya mencegah lebih baik daripada terlanjur mengecewakan rakyat yang telah memilih para pemimpin serta harus dilayani.
Not Comments Yet "Para Pengecer Premium di Jalur Pantura Jual Hingga Rp 40.000 Perliternya"
Post a Comment