Seorang santri ingin turun gunung, sudah 10 tahun ngaji dengan Kyainya. Jadilah dia mengutarakan maksud hendak memulai dakwah di tempatnya. Sang Kyai menatapnya, lalu berkata memberi ujian terakhir.
“Kamu boleh mengamalkan ilmu, syaratnya... tunjukkan apapun kepadaku sesuatu yang lebih buruk darimu dan kau lebih baik darinya. Saya beri waktu 3 hari.”
Hari Pertama, santri itu berkeliling desa di dekat pesantrennya. Di lihatnya ada seorang pemuda yang melamun di depan rumahnya. Setelah mencari tahu, ternyata pemuda itu tiap hari melamun, sudah 2 tahun, semenjak kekasih hatinya dinikahi orang lain. Melamun dan melamun. Si Santri tersenyum. Pemula pelamun itu tentu lebih buruk darinya, bukannya waktu si Santri hanya untuk bertaqarub pada Allah. Pikir si Santri.
Malam harinya, selepas dzikir malam. Si Santri Menangis, dia bertaubat. Bagaimana jika si pelamun itu kembali sadar, lalu taat kepada Allah melebihi dirinya. Oh Tuhan, siapalah aku?
Hari Kedua, Santri itu kembali berkeliling , ditemuilah seorang yang kerjaannya mabuk di pinggir pasar. Si santri tersenyum, karena setelah mencari informasi, lelaki pemabuk itu setiap hari pekerjaannya hanya mabuk disana dan sering mengganggu orang.
“Orang ini pasti lebih buruk dariku” bagaimana tidak, si santri selalu mengaji dan beribadah kepada Allah. Begitu pikir santri. Malamnya, ya malamnya, setelah shalat malam. Si Santri merenung, “Ya Allah, sombonglah aku. Bagaimana jika esok hari pemabuk itu taubat, dan taat kepadaMu, tentu hanya Allah yang Tahu. Si Santri menangis dan bertaubat.”
Hari Ketiga, si Santri bertambah bingung. Namun, saat bingung dilihatnya seekor anjing hitam sedang mencari makanan. Si Santri berpikir dan tersenyum. Tentu, anjing itu lebih buruk darinya. Akhirnya, si santri bahagia.
Malam harinya, saat hendak shalat subuh, Si Santri terpekur dan meneteskan airmata. ‘Bagaimana bisa aku sombong, anjing setelah meninggal, habislah urusannya. Sedangkan aku, jika aku berdosa maka pengadilan Allah menungguku dengan sangat dahsyat!’ Santri itu bertambah airmatanya dan bertaubat.
Pagi harinya, si santri menghadap Kyai.
‘Kyai, sudah tiga hari saya mencari apa yang Kyai syaratkan. Dan, aku tidak menemukan apapun yang lebih buruk dariku. Maka, aku belum pantas untuk berdakwah keluar dari sini.’ Si Santri meneteskan airmatanya...
Kyai itu tersenyum, “Wahai santriku, sudah saatnya kau pergi dan menyebarkan agama. Kau sudah banyak belajar, ajarkanlah agama pada manusia untuk kembali kepada Allah Ta’ala’
Not Comments Yet "Adakah yang Lebih Buruk Darimu?"
Post a Comment