9. Wanita Itu?
Siang itu, panas begitu menyengat. Ratna merasa sangat kepanasan di pasar penuh sesak, namun dia merasa tenang karena ayahnya menggendongnya di pundak, sehingga tak terlalu kepayahan ketika melewati orang lewat yang lalu lalang.
“Yah, Beli Apa?” Nada suara Ratna masih terputus-putus.
“Ayah Mau beliin Ratna Baju, Alhamdulillah ada rezeki lebih,” Najib memegang pinggang puterinya dengan kedua tangan.
Mereka memilih baju yang pas untuk Ratna, begitulah mereka belanja agak lama karena memang Najib merasa bingung memilih baju yang pas untuk puterinya. Mau tidak mau, kini Najib adalah Ayah sekaligus Ibu untuk Ratna. Baju-baju yang di pajang begitu banyak dan bagus-bagus semua, kalau sudah seperti itu biasanya rumus yang digunakan Najib adalah memilih yang pas dengan kantongnya.
Banyak pembeli yang rata-rata wanita di toko baju Muslim ‘Adzkia,’ Najib pun sering berbelanja kesana. Ratna terus menunjuk baju, tangannya kesana kesini karena semua baginya bagus dan berwarna-warni penuh gambar dan ukiran. Najib hanya tersenyum melihat puterinya yang kebingungan, karena diapun bingung memilih baju yang semuanya bagus tersebut.
“Yah, kupu-kupu,” Ratna menunjuk baju terusan berwarna hijau terang, terlihat cerah dan ada gambar kupu-kupunya yang tengah hinggap di bebungaan.
Mata Najib terpukau melihat baju tersebut, di pajang di hanger. Baju tersebut sangat anggun untuk anak kecil, ada restliting di belakang, terusan sampai rok yang memanjang, dan ada jilbab kecil yang terselip di sela-sela hanger-nya.
Najib merasa cocok dengan baju tersebut, dia menghulurkan tangan hendak mengambil baju tersebut untuk menanyakan harganya. Namun, saat tangannya mencapai baju tersebut, sebuah tangan lembut juga hendak mengambilnya. Najib memegang ujung bawah baju sebelah kiri dan tangan yang lain memegang ujung baju sebelah kanan.
“Eh, maaf ternyata ada yang tertarik dengan baju kecil ini juga,” Najib menarik tangannya mengalah, sekilas terlihat olehnya wanita berjilbab merah tua dari samping kiri sehingga wajah tersebut terlihat separuh. Najib segera mengalihkan pandangannya kearah puterinya.
“Baju ini terlihat bagus, saya juga terta...,” wanita itu menghentikan ucapannya, dia menengok wajah lelaki yang sedang menggandeng tangan puterinya itu.
“Maaf, anda Najib?” suara lembut itu terpaksa membuat Najib memperhatikan wajah bersih di hadapannya.
Detak jantung Najib berdetak, sekelebat kenangan berputar cepat, mencoba mengingat, namun pikirannya tak bisa konsentrasi karena kondisi yang ramai.
“Anda siapa ya?”
“Saya Fitri Adzkia, saya juga sering ke toko ini. Ini puteri Anda?”
Barulah kenangan Najib berhenti pada satu titik, ya satu titik yang tak terlupa namun harus dia lupakan. Wanita itu adalah wanita yang dulu pernah hampir menjadi isterinya, namun garis takdirnya memang bukan demikian. Najib menepis semua hayalan, kini semua telah berbeda toh pasti wanita di depannya juga sudah memiliki keluarga dan dia juga sering datang ke toko ‘Adzkia’ pastinya untuk membeli perlengkapan untuk anaknya.
Najib tersenyum, “Iya, ini puteri saya, namanya Ratna Aprilia.”
“Nama yang bagus,” Fitri mengambil baju yang dipegangnya, lalu duduk di hadapan gadis kecil itu “Baju ini cocok untuk anak cantik sepertimu.”
“Makasih,” sambil malu-malu, Ratna langsung menerima baju bergambar kupu-kupu tersebut dari tangan Fitri penuh kemenangan.
“Anakku akan cari yang lain jika Anda juga menginginkannya,” Najib merasa tak enak, Najib berpikir pastilah Fitri juga mencari baju untuk puterinya.
“Tidak apa-apa, masih banyak yang lain. Saya masih bisa mencari yang lain, kulihat daritadi kalian kesusahan mencari baju,” Senyum Fitri tercipta dan membuat Najib tak bisa berkata-kata lagi.
Ya Allah, ada apa dengan hatiku. Najib segera mengalihkan pandangannya, satu pandangan sekilas saja bisa membuat orang terlupa akan keadaan. Apalah dirinya? siapakah dirinya? Dan itu bukanlah pandangan halal, itu dosa. Najib menguatkan hatinya.
“Terimakasih, kami hendak pamit dulu, salam kami untuk keluarga di rumah,” Najib pamitan dan menuju kasir untuk membayar baju tersebut, “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam Warrahmatullah Wabarakatuh,” Fitri melihat punggung lelaki itu, gadis kecil bersamanya masih menengok kearahnya penuh senyuman, Fitri membalas senyuman tersebut. Gadis kecil itu melambaikan tangannya, Fitri pun membalasnya.
Najib segera membayar harga baju tersebut dan segera mengajak puterinya pulang, dia tidak mau larut dalam pikiran sempit yang semakin ditiupkan setan untuk mengarah pada hayalan-hayalan semu. Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannasiir.
Not Comments Yet "Keyakinan Mentari Bagian 9, WANITA ITU??"
Post a Comment